Mengapa Anak Perlu Bermain Bebas Saat Liburan? Ini Kata Psikolog
puanpertiwi.com – Liburan sekolah sering menjadi momen yang dinanti anak-anak. Namun di balik kegembiraan tersebut, banyak orang tua menghadapi dilema yang tak sederhana. Di satu sisi, mereka ingin anak menikmati waktu luang dengan bermain dan bereksplorasi. Di sisi lain, muncul kekhawatiran saat si kecil terlalu lama bermain di luar rumah, mulai dari kelelahan hingga risiko jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu.
Kekhawatiran itu ternyata bukan tanpa alasan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa selama liburan panjang, anak-anak cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar gawai. Fenomena yang dikenal sebagai Structured Days Hypothesis ini menggambarkan bagaimana hilangnya rutinitas sekolah membuat aktivitas fisik anak menurun, sementara waktu layar meningkat signifikan.
Padahal, menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak usia sekolah idealnya tetap aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari untuk mendukung kesehatan fisik maupun perkembangan mental mereka.
Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, menilai masa liburan justru menjadi kesempatan berharga bagi anak untuk mengembangkan kemandirian dan ketangguhan melalui pengalaman bermain yang lebih bebas.
“Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat adventurous play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali,” jelas Saskhya dalam acara Community Playdate: Eksplorasi Tanpa Rasa Khawatir, Langkah Awal #BaikUntukAnak.
Menurutnya, aktivitas semacam ini memberi kesempatan bagi anak untuk belajar menghadapi tantangan, mengambil keputusan, hingga memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun rasa percaya diri dan kemampuan menghadapi berbagai situasi di masa depan.
Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa dengan permainan fisik yang menantang memiliki tingkat kecemasan dan gejala depresi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang mendapatkan kesempatan bereksplorasi.
Meski demikian, kebebasan bukan berarti tanpa pengawasan. Saskhya mengingatkan pentingnya keseimbangan antara memberikan ruang dan memastikan anak tetap merasa aman. Orang tua dapat berperan sebagai secure base atau zona aman yang selalu bisa dijangkau anak ketika dibutuhkan.

“Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit-sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain,” ujarnya.
Selain memberikan ruang bermain, orang tua juga perlu peka terhadap sinyal yang ditunjukkan anak. Saat terlalu asyik bermain, anak sering kali tidak menyadari bahwa tubuhnya mulai lelah atau kekurangan cairan. Perubahan perilaku seperti mudah marah, rewel, atau terlihat lesu bisa menjadi tanda awal yang perlu diperhatikan.
Alih-alih langsung menghentikan aktivitas bermain, orang tua dapat mengajak anak beristirahat sejenak di tempat yang teduh untuk memulihkan energi sebelum kembali beraktivitas. Momen jeda sederhana ini menjadi bagian penting agar anak tetap dapat menikmati masa liburan dengan nyaman.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Cap Kaki Tiga Anak mengajak para orang tua untuk tidak membatasi ruang eksplorasi anak karena rasa khawatir yang berlebihan. Melalui kampanye Langkah Awal #BaikUntukAnak, merek ini mendorong keluarga untuk memberikan kesempatan lebih luas bagi anak dalam mengeksplorasi lingkungan sekitar, sekaligus tetap mempersiapkan kebutuhan mereka selama beraktivitas.
Bagi Saskhya, inti dari pengasuhan bukanlah menghilangkan seluruh risiko dari kehidupan anak, melainkan membekali mereka agar mampu menghadapi tantangan secara bertahap.
“Anak menjadi tangguh bukan karena dilindungi dari segala hal, melainkan karena dipercaya, sambil tahu ibunya selalu bisa ia jangkau,” tutupnya.
Di tengah maraknya penggunaan gawai selama liburan sekolah, pesan ini menjadi pengingat bahwa petualangan sederhana di luar rumah mungkin justru menjadi pengalaman berharga yang membantu anak tumbuh lebih mandiri, percaya diri, dan siap menghadapi dunia di masa depan. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.