Merawat Bahasa Lewat Cara Menyenangkan, Narabahasa Gelar Pesta Receh
puanpertiwi.com – Di tengah derasnya arus komunikasi digital yang melahirkan beragam istilah baru setiap hari, bahasa ternyata tetap memiliki ruang untuk dirayakan dengan cara yang hangat dan menyenangkan. Semangat itulah yang dihadirkan Narabahasa melalui peluncuran buku Recehan Bahasa #2 dalam acara bertajuk Pesta Receh yang digelar di PDS H.B. Jassin, Sabtu (13/6).
Bekerja sama dengan Penerbit Mizan, Narabahasa mengajak masyarakat menikmati bahasa dari sudut yang lebih santai, interaktif, dan menghibur. Mulai dari sesi membaca senyap, diskusi buku, hingga kuis kebahasaan berhadiah, seluruh rangkaian acara dirancang untuk menjadikan bahasa sebagai pengalaman yang dekat dan menyenangkan.
Lebih dari sekadar peluncuran buku, Pesta Receh menjadi ruang pertemuan bagi para pembaca, komunitas, dan pencinta bahasa untuk merayakan budaya literasi secara kolektif. Suasana yang cair membuat diskusi mengenai bahasa terasa ringan, meski membahas berbagai fenomena yang sebenarnya cukup kompleks.
Dalam sesi diskusi, penulis buku Ivan Lanin dan Harrits Rizqi hadir bersama editor Hafizh Pragitya serta editor dan peneliti sastra Innezdhe Ayang. Mereka membahas berbagai fenomena kebahasaan yang berkembang di masyarakat, mulai dari kemunculan istilah-istilah baru hingga perdebatan mengenai penggunaan kata tertentu.
Ivan Lanin menilai kemunculan diksi-diksi unik yang ramai digunakan generasi muda merupakan bagian alami dari perkembangan bahasa. Menurutnya, setiap generasi akan menciptakan istilahnya sendiri sebagai penanda identitas sosial dan budaya.
“Bahasa berkembang sesuai dengan generasinya. Istilah gaul atau slang akan tercipta, baik sengaja maupun tidak, pada tiap generasi untuk menunjukkan identitas mereka. Bukan generasi baru, melainkan generasi lama yang akan menyesuaikan diri,” ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Harrits Rizqi. Ia menjelaskan bahwa kata-kata yang sering dianggap sepele atau “receh” justru menyimpan jejak pemikiran masyarakat yang melahirkannya. Karena itu, kata-kata tersebut layak dicatat dan dirawat.
“Sebuah kata mengandung pemikiran penuturnya. Jika suatu kata ‘mati’ atau tidak digunakan lagi, pemikiran penuturnya juga ‘mati’,” kata Harrits. Baginya, penerbitan Recehan Bahasa #2 merupakan upaya untuk menjaga warisan cara berpikir yang terekam dalam bahasa sehari-hari.
Sementara itu, Hafizh Pragitya mengungkapkan bahwa buku ini tidak hanya membahas istilah-istilah yang akrab di telinga masyarakat, tetapi juga menjawab berbagai perdebatan kebahasaan yang kerap muncul.
“Selain fenomena bahasa yang dekat, seperti galgah dan kapitil, ada juga fenomena seperti perdebatan apakah sawit merupakan pohon atau bukan, dan itu dijawab di buku ini,” tuturnya.
Dari perspektif sastra, Innezdhe Ayang menekankan pentingnya pencatatan kata sebagai bagian dari upaya merawat sejarah. Menurutnya, bahasa tidak sekadar alat komunikasi, tetapi juga arsip yang menyimpan perjalanan budaya dan pemikiran masyarakat.
“Faktanya kita tidak menggunakan suatu kata hanya karena ingin menyebarkannya, tetapi juga merawat sejarah dan penggunaannya,” ujarnya.
Melalui peluncuran Recehan Bahasa #2, Narabahasa ingin mengingatkan bahwa bahasa memiliki peran penting dalam membentuk dan mendidik bangsa. Setiap kata yang lahir, berkembang, hingga direkam dalam kamus dan berbagai publikasi merupakan bagian dari kearifan kolektif masyarakat Indonesia.

Dengan pendekatan yang ringan dan ringkas, buku ini tidak hanya mengajak pembaca mengenal kata-kata unik yang sering luput dari perhatian, tetapi juga memahami pemikiran lintas generasi yang tersembunyi di baliknya. Sebab di balik kata yang dianggap receh, tersimpan cerita, sejarah, dan cara pandang yang membentuk perjalanan sebuah bangsa. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.