Lebih dari Sekadar Kopi, Tuku Tumbuh Bersama Tetangga Selama 11 Tahun
puanpertiwi.com – Secangkir kopi mungkin hanya menemani beberapa menit dalam keseharian. Namun, di balik setiap tegukan, ada perjalanan panjang yang melibatkan banyak tangan, mulai dari petani yang merawat tanaman, barista yang meracik minuman, hingga pelaku UMKM yang ikut bertumbuh bersama.
Pesan itu menjadi benang merah perayaan ulang tahun ke-11 Toko Kopi Tuku melalui acara Kumpul Tetangga Tukuyang digelar di Jakarta, Kamis (25/6/2026). Mengusung tema Sewelas Asih, Tuku mengajak seluruh komunitas, pelanggan, mitra, hingga para pekerja di balik operasionalnya untuk kembali merayakan nilai kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi perjalanan perusahaan.
Alih-alih sekadar merayakan usia baru, Tuku menjadikan momen tersebut sebagai pengingat bahwa pertumbuhan sebuah bisnis lahir dari hubungan yang saling menguatkan.

Saat ini, lebih dari 85 ribu cangkir kopi disajikan setiap hari kepada para “tetangga”—sebutan bagi pelanggan Tuku—di berbagai kota. Di balik operasional tersebut, terdapat 1.089 barista, cook, helper, dan kru yang memastikan setiap cangkir hadir dengan kualitas dan pelayanan yang hangat.
Pertumbuhan jaringan gerai juga membawa dampak ekonomi yang lebih luas. Setiap pembukaan toko baru menciptakan sekitar 28 lapangan kerja langsung, sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk bergabung dalam ekosistem Tuku.
Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Tahun lalu, bencana yang melanda Aceh Tengah merusak kebun kopi yang selama ini menjadi salah satu sumber pasokan biji kopi Tuku. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan secangkir kopi sangat bergantung pada banyak pihak yang saling terhubung, terutama para petani di daerah penghasil kopi.
Kesadaran tersebut mendorong Tuku terus memperkuat berbagai inisiatif keberlanjutan. Bersama Yayasan Tanah Air Semesta dan Bumiterra, perusahaan menjalankan program reforestasi dengan menanam lebih dari 13 ribu pohon Multi Purpose Tree Species (MPTS) di Garut dan Kapuas Hulu.
Di sisi lain, pengelolaan limbah juga menjadi bagian dari komitmen yang dibangun. Berkolaborasi dengan Waste4Change, Duitin, dan Envmission, Tuku telah mengelola lebih dari 1.124 ton sampah operasional. Sementara limbah kemasan kopi dan krimer diolah kembali bersama UMKM di Gunung Sindur menjadi tas guna pakai yang diproduksi oleh 40 perempuan pengrajin, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Seluruh perjalanan tersebut dirangkum dalam sosok “11 Tetangga di Balik Perjalanan 11 Tahun Tuku”, yang merepresentasikan petani, barista, mitra UMKM, hingga individu-individu yang selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem Tuku.
CEO & Founder Tuku, Andanu Prasetyo, mengatakan selama 11 tahun terakhir, perusahaan banyak belajar dari para “tetangga” yang menjadi bagian dari perjalanan mereka.
“Kami berusaha mendengar dari tetangga Tuku semua. Kami belajar dari tetangga Tuku semua. Semua yang kami lakukan adalah bentuk rasa syukur dan terima kasih kami atas kehadiran para tetangga Tuku sampai detik ini,” ujarnya.

Menurut Andanu, perayaan ulang tahun ini bukan sekadar selebrasi, melainkan momen untuk kembali merajut cerita yang telah dibangun bersama para petani, mitra, pelanggan, hingga seluruh keluarga besar Tuku.
“Ini sudah bukan tentang aku lagi dan bukan tentang Tuku lagi. Ini tentang bagaimana kita semua sebagai tetangga Tuku bisa memberikan manfaat yang lebih besar,” katanya.
Melalui tema Sewelas Asih, Tuku ingin menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya diukur dari banyaknya gerai atau tingginya penjualan. Di balik setiap cangkir kopi yang tersaji, ada kerja sama, kepedulian, dan semangat bertumbuh bersama yang terus menggerakkan ekonomi lokal dari hulu hingga hilir. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.