CERIA Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Belajar, Bersuara, dan Bertindak untuk Iklim
puanpertiwi.com – Di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim di wilayah perkotaan, anak-anak dan kaum muda kini tidak hanya diposisikan sebagai kelompok rentan, tetapi juga sebagai aktor penting dalam membangun ketangguhan komunitas. Kondisi ini menjadi semakin relevan di Jakarta, yang menghadapi ancaman banjir, polusi udara, hingga suhu panas ekstrem yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan Children’s Climate Risk Index (2024), Indonesia termasuk negara dengan tingkat risiko iklim tinggi bagi anak. Di Jakarta, jutaan anak hidup di tengah tekanan lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan, pendidikan, hingga kualitas hidup mereka. Situasi ini semakin kompleks bagi anak perempuan yang menghadapi kerentanan ganda, mulai dari risiko kekerasan, putus sekolah, hingga terbatasnya akses informasi dan ruang pengambilan keputusan.
Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bersama PREDIKT, didukung PlanBørnefonden (Denmark), meluncurkan program CERIA (Climate Education, Resilience, Innovation, and Action) di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, pada Selasa, 12 Mei 2026. Program ini dirancang sebagai upaya kolaboratif untuk memperkuat kesiapsiagaan perubahan iklim melalui pendidikan, pemberdayaan, dan aksi nyata yang melibatkan anak, sekolah, komunitas, serta kaum muda.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menegaskan bahwa krisis iklim juga merupakan isu keadilan sosial yang menuntut keterlibatan generasi muda, khususnya anak perempuan.
“Perubahan iklim juga menjadi isu keadilan sosial. Oleh karena itu, anak-anak, khususnya anak perempuan, harus dilibatkan sebagai bagian dari solusi. Melalui CERIA, kami ingin memastikan mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, dan ruang untuk berkontribusi dalam membangun ketahanan komunitasnya,” ujar Dini Widiastuti.
Program CERIA akan berjalan selama tiga tahun di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur, dengan target menjangkau sekitar 6.000 anak usia 7–13 tahun dan 3.000 kaum muda usia 14–24 tahun. Fokus utama program ini mencakup peningkatan literasi iklim, kesiapsiagaan bencana, penguatan kepemimpinan anak muda dalam aksi adaptasi iklim yang inklusif dan responsif gender, serta mendorong partisipasi dalam advokasi dan pengambilan keputusan di tingkat lokal.
Dari sisi pemerintah, dukungan terhadap inisiatif ini juga sejalan dengan target besar pengurangan emisi dan adaptasi iklim di Jakarta.
Rina Suryani, Ketua Sub Kelompok Pemeliharaan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, menyampaikan bahwa Jakarta memiliki target ambisius menuju kota rendah emisi dan tangguh iklim.
“Jakarta itu sudah punya target. Tahun 2030 itu 30% harus sudah penurunan emisi GRK yang dicapai. Dan tahun 2050 itu adalah net zero emission. Jadi ini kalau boleh dibilang targetnya jauh lebih cepat dibandingkan nasional,” ujar Rina.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam mencapai target tersebut, termasuk keterlibatan anak dan kaum muda.
“Di dalamnya sudah ada bagaimana mitigasi dan juga bagaimana adaptasi itu dilakukan. Kondisi di DKI Jakarta saat ini, penurunan emisi GRK-nya sudah mencapai 26,9%, dan ini semoga ini tetap bisa kita pertahankan sampai dengan 2030. Makanya, ayo kita bersama-sama bantu Plan Indonesia dan PREDIKT untuk mencapai target tersebut melalui anak-anak mudanya berlaku mulai dari diri sendiri,” jelasnya.
Dari perspektif edukasi dan pemberdayaan, PREDIKT menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan kontekstual bagi anak-anak.
CEO PREDIKT, Avianto Amri, mengatakan bahwa perubahan iklim sudah menjadi bagian dari keseharian anak di Jakarta.
“Bagi banyak anak di Jakarta, perubahan iklim bukan lagi isu yang jauh atau abstrak, mereka mengalaminya secara langsung melalui banjir, panas ekstrem, dan angin kencang yang mempengaruhi kehidupan dan pembelajaran mereka setiap hari. Karena itu, kami percaya pendidikan perubahan iklim harus dengan bentuk seru dan menyenangkan sehingga membantu anak-anak merasa berdaya untuk bertindak dan menjadi bagian dari solusi,” ujar Avianto.
Lebih jauh, pendekatan CERIA tidak hanya berhenti pada edukasi, tetapi juga memberi ruang bagi anak muda untuk menciptakan aksi nyata. Salah satu contoh datang dari inisiatif Climate Warrior yang dikembangkan oleh Speak Out Youth.
Alya Zahra Sabira, Founder & President Speak Out Youth, menjelaskan bahwa anak muda perlu memahami isu iklim sekaligus ketimpangan gender yang menyertainya.
“Kami dengan teman-teman membuat yang namanya Climate Warrior. Ini ditujukan bagi anak-anak agar mereka bisa memahami tentang bagaimana perubahan iklim dan juga kesetaraan gender berpengaruh bagi mereka,” tutur Alya.
Ia menambahkan, bahwa pendekatan pembelajaran berbasis aksi menjadi kunci agar anak muda benar-benar terlibat.
“Kami membuat sebuah modul, yang tidak hanya belajar tentang kerusakan lingkungan, tetapi juga bagaimana ternyata kerusakan lingkungan berpengaruh terhadap kesetaraan gender. Setelah modul ini disampaikan, kami juga membuat lembar fakta atau fact sheet yang kami sampaikan kepada para pengambil kebijakan, karena pendidikan itu seharusnya memang memberikan ruang kepada setiap anak untuk berkreasi,” paparnya.

Peluncuran CERIA menjadi langkah strategis yang mempertemukan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor pendidikan, dan komunitas dalam satu tujuan bersama: menciptakan generasi muda Jakarta yang lebih tangguh menghadapi krisis iklim.
Di tengah meningkatnya risiko lingkungan, CERIA hadir bukan hanya sebagai program edukasi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang memberi anak dan kaum muda kesempatan untuk belajar, bersuara, dan bertindak demi masa depan kota yang lebih aman dan berkelanjutan. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.