Melasma Bukan Sekadar Flek Biasa, Kenali Penyebabnya agar Penanganan Lebih Tepat
puanpertiwi.com – Banyak orang mengira semua noda kecokelatan di wajah adalah flek biasa. Padahal, tidak sedikit yang sebenarnya mengalami melasma, gangguan pigmentasi kulit yang membutuhkan penanganan berbeda. Kesalahan mengenali kondisi ini membuat sebagian orang mencoba berbagai produk atau perawatan secara mandiri tanpa hasil yang memuaskan, bahkan berisiko memperburuk kondisi kulit.
Melasma menjadi salah satu masalah kulit yang paling sering dialami, terutama oleh perempuan. Kondisi ini ditandai dengan munculnya bercak kecokelatan hingga keabu-abuan pada area wajah yang sering terpapar sinar matahari, seperti pipi, dahi, hidung, dan area atas bibir. Selain memengaruhi penampilan, melasma juga kerap berdampak pada rasa percaya diri hingga aktivitas sehari-hari.
Masyarakat Indonesia termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami melasma. Tingginya paparan sinar ultraviolet (UV) sepanjang tahun di wilayah tropis, ditambah karakteristik warna kulit yang lebih mudah mengalami hiperpigmentasi, menjadi faktor yang membuat kondisi ini lebih sering dijumpai. Tak hanya sinar UV, perubahan hormon, faktor genetik, paparan visible light, hingga proses inflamasi pada kulit juga dapat memicu munculnya melasma.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kondisi tersebut, PT Unison Medika Jaya menggelar kegiatan edukasi dalam rangka Melasma Awareness Month pada Rabu, 15 Juli 2026, di Amanaia Resto Satrio, Jakarta. Acara ini menghadirkan dokter spesialis kulit, dokter estetika, serta penyintas melasma untuk berbagi informasi mengenai faktor risiko, pentingnya diagnosis yang tepat, hingga perkembangan terapi melasma yang kini semakin komprehensif.
Pengalaman tersebut pernah dirasakan Margaret Vivi, yang sempat mengira noda di wajahnya hanyalah flek biasa. Seiring waktu, bercak tersebut tidak kunjung memudar hingga akhirnya memengaruhi rasa percaya dirinya.
“Awalnya saya mengira ini hanya flek biasa. Lama-kelamaan saya jadi kurang percaya diri karena nodanya tidak kunjung memudar. Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya baru memahami bahwa melasma memang membutuhkan penanganan yang tepat dan konsisten,” ujarnya.
Menurut dr. Stanley Setiawan, dokter spesialis kulit, langkah pertama yang paling penting adalah memastikan diagnosis secara akurat. Sebab, tidak semua noda gelap di wajah merupakan melasma sehingga penanganannya pun tidak bisa disamaratakan.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan produk atau perawatan tanpa mengetahui penyebab pasti justru dapat mengganggu skin barrier dan memperburuk kondisi kulit. Karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting sebelum memulai terapi.
Seiring berkembangnya dunia estetika, pilihan terapi untuk melasma pun semakin beragam. Salah satu pendekatan yang kini banyak diterapkan adalah redermalisasi menggunakan skin booster yang mengombinasikan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid. Pendekatan ini tidak hanya membantu menyamarkan hiperpigmentasi, tetapi juga meningkatkan hidrasi serta memperbaiki kualitas kulit secara menyeluruh. Salah satu produk yang digunakan dalam terapi tersebut adalah Xela Rederm.
Sementara itu, dr. Ratna Yuliarviana, dokter estetika, menjelaskan bahwa keberhasilan penanganan melasma membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan dilakukan secara konsisten.
Menurutnya, terapi redermalisasi dapat dikombinasikan dengan growth factors untuk mendukung regenerasi sel kulit dan membantu proses pemulihan. Salah satu yang digunakan dalam praktik adalah AQ Serum, yang diformulasikan untuk mendukung regenerasi seluler sekaligus membantu mengurangi proses inflamasi pada kulit.
Namun, perawatan di klinik saja tidak cukup. Penggunaan tabir surya setiap hari dengan perlindungan spektrum luas dan SPF tinggi tetap menjadi langkah penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari sekaligus membantu mengurangi risiko melasma muncul kembali.
Melalui edukasi dalam rangka Melasma Awareness Month, PT Unison Medika Jaya berharap masyarakat semakin memahami bahwa melasma bukan kondisi yang harus diterima begitu saja. Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang sesuai, perlindungan terhadap paparan sinar matahari, serta konsistensi dalam perawatan, kondisi ini dapat dikendalikan sehingga kualitas kulit dan rasa percaya diri pun dapat kembali meningkat. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.