Amartha Dorong Tren Investasi Berdampak Lewat Pembiayaan UMKM Perempuan

puanpertiwi.com – Minat masyarakat untuk berinvestasi terus meningkat seiring semakin mudahnya akses terhadap berbagai instrumen keuangan. Namun, di tengah kondisi pasar yang dinamis, tren investasi kini mulai bergeser. Tak lagi hanya mengejar potensi keuntungan, semakin banyak investor yang juga mempertimbangkan dampak sosial dari dana yang mereka investasikan.

Salah satu bentuk investasi yang mulai mendapat perhatian adalah investasi yang terhubung dengan sektor riil, termasuk pembiayaan produktif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain memberikan peluang imbal hasil, investasi jenis ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara lebih luas.

Melihat perubahan tersebut, Amartha menghadirkan Amartha Prosper sebagai alternatif investasi yang menghubungkan investor dengan pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan di berbagai daerah di Indonesia. Melalui salah satu produknya, Grassroots Growth Series (GGS), dana investor disalurkan kepada Ibu Mitra Amartha yang tersebar di lebih dari 50.000 desa dengan beragam sektor usaha.

Julie Fauzie, Chief Funding Officer Amartha, mengatakan bahwa di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan, masyarakat perlu semakin selektif dalam memilih instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan sekaligus memiliki nilai tambah.

“Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Investor bukan hanya memperoleh potensi imbal hasil, melainkan juga investasi yang disalurkan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif,” ujar Julie.

Perubahan perilaku investor ini juga diamati oleh Lolita Setyawati CFP®, RIFA®, Certified Financial Planner. Menurutnya, jika beberapa tahun lalu investor cenderung berfokus pada instrumen yang menawarkan keuntungan cepat, kini semakin banyak yang mulai memperhatikan kesesuaian investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, serta transparansi pengelolaan dana.

“Ketika mau memulai berinvestasi, yang paling penting sebenarnya kenali diri sendiri dulu. Tujuan investasinya untuk apa, seberapa besar toleransi terhadap risiko, dan apa yang akan dilakukan jika hasilnya tidak sesuai harapan,” jelas Lolita.

Ia mengingatkan bahwa sebelum mulai berinvestasi, masyarakat sebaiknya memastikan kondisi keuangan dasar sudah sehat, termasuk memiliki dana darurat, arus kas yang baik, dan tidak menggunakan dana kebutuhan pokok maupun dana pinjaman untuk berinvestasi.

Selain itu, Lolita juga menekankan pentingnya memilih instrumen yang legal dan logis.

“Legal berarti produk tersebut memiliki izin dan berada di bawah pengawasan otoritas terkait. Sedangkan logis berarti kita memahami bagaimana dana dikelola, ke mana dana disalurkan, serta dari mana potensi imbal hasilnya berasal. Jadi, jangan hanya melihat angka return, tetapi pahami juga mekanisme investasinya,” katanya.

Selama lebih dari 16 tahun, Amartha telah menyalurkan pembiayaan kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan di perdesaan dengan total pendanaan mencapai lebih dari Rp47 triliun. Pada 2025, pembiayaan tersebut turut mendorong terciptanya sekitar 90.000 lapangan pekerjaan baru, di mana 86 persen di antaranya diisi oleh perempuan.

Menurut Julie, investasi yang disalurkan ke sektor riil memiliki manfaat yang lebih luas karena membantu pelaku UMKM memperoleh akses modal untuk mengembangkan usahanya.

“Ketika modal disalurkan ke UMKM, dampaknya dapat meluas secara ekonomi. Melalui pembiayaan produktif, UMKM dapat memperoleh akses modal untuk mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, hingga membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Melalui Amartha Prosper, Amartha berharap semakin banyak masyarakat memandang investasi bukan hanya sebagai cara mengembangkan aset, tetapi juga sebagai langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif melalui pemberdayaan jutaan UMKM perempuan di Indonesia. ***

Post Comment