Dari Keluhan ke Solusi, Anak Muda Mulai Ambil Peran dalam Isu Polusi Udara

puanpertiwi.com – Bagi banyak anak muda di kota-kota besar Indonesia, langit yang tertutup kabut polusi perlahan menjadi pemandangan yang terasa biasa. Masker, aplikasi pemantau kualitas udara, hingga keluhan soal sesak napas kerap menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Namun kini, sebagian generasi muda mulai mengambil langkah lebih jauh: tidak hanya mengkritik, tetapi juga ikut merumuskan solusi.

Semangat inilah yang terlihat dalam kegiatan Akademi Udara Bersih: From Wisdom to Impactful Action yang digelar Bicara Udara (Yayasan Udara Anak Bangsa) bersama Guidelight dan didukung Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Indonesia. Program ini menjadi bagian dari Clean Air Policy Competition, sebuah kompetisi yang mengajak mahasiswa menyusun rekomendasi kebijakan untuk membantu mengatasi persoalan polusi udara di Indonesia.

Isu ini memang semakin relevan bagi generasi muda. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup, polusi udara kini tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas udara yang buruk juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir, konsentrasi, hingga kesehatan psikologis seseorang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat kualitas udara di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Berbagai laporan menunjukkan bahwa tingkat partikel polutan halus atau PM2.5 di sejumlah wilayah masih berada di atas batas aman yang direkomendasikan.

Di tengah situasi itu, kampus dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong lahirnya generasi yang lebih peduli terhadap isu lingkungan sekaligus mampu menawarkan solusi berbasis data.

“Kampus adalah tempat yang tepat untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus kemampuan berpikir kritis. Ketika mahasiswa memahami dampak polusi udara berdasarkan data dan fakta, mereka perlu didorong untuk mencari solusi berupa ide dan usulan kebijakan,” ujar Rahmi, Manajer Operasional, Data, dan Pengembangan Layanan UI GreenMetric.

Fenomena ini juga mencerminkan perubahan cara pandang anak muda terhadap aktivisme. Jika sebelumnya keterlibatan sering diwujudkan melalui kampanye atau aksi sosial, kini semakin banyak mahasiswa yang tertarik berkontribusi melalui riset, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang lebih konkret.

Menurut Fadhil Firdaus, City Advisor Breathe Jakarta-C40, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong perubahan jangka panjang.

“Anak muda memiliki kesempatan besar untuk ikut berkontribusi, baik melalui riset, inovasi, maupun keterlibatan dalam proses kebijakan. Semakin banyak yang terlibat, semakin besar peluang kita menciptakan perubahan,” katanya.

Menariknya, kompetisi ini tidak hanya berfokus pada adu gagasan. Para peserta juga akan mendapatkan pendampingan dari para ahli serta kesempatan membangun jejaring dengan berbagai pihak yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Dengan demikian, ide-ide yang lahir tidak berhenti sebagai konsep di atas kertas, tetapi berpotensi berkembang menjadi rekomendasi yang relevan bagi pengambil kebijakan.

Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, munculnya ruang-ruang kolaborasi seperti ini menjadi sinyal positif. Sebab, perubahan besar sering kali berawal dari langkah sederhana: ketika generasi muda merasa bahwa suara dan ide mereka dapat menjadi bagian dari solusi.

Dan bagi banyak mahasiswa hari ini, memperjuangkan udara yang lebih bersih bukan lagi sekadar isu lingkungan. Ini adalah tentang masa depan, kualitas hidup, dan hak untuk bernapas lebih baik. ***

Post Comment