Momentum Hari Kartini: POGI Gaungkan Gerakan Nasional Selamatkan Perempuan Indonesia

puanpertiwi.com – Di balik perayaan Hari Kartini, masih tersisa kenyataan getir yang dihadapi perempuan Indonesia: satu ibu meninggal setiap jam akibat komplikasi kehamilan dan persalinan.

Di tengah situasi tersebut, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendorong SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia) menjadi Gerakan Nasional. Ketua Umum POGI, Budi Wiweko, menegaskan bahwa persoalan kesehatan perempuan tidak lagi bisa dipandang sebagai isu sektoral semata.

“Ketika seorang perempuan sehat, ia tidak hanya menjaga dirinya sendiri. Ia menjaga keluarga, membesarkan generasi, dan secara tidak langsung menentukan arah masa depan bangsa,” ujarnya.

Namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang kompleks. Di banyak wilayah Indonesia, akses terhadap layanan kesehatan reproduksi masih belum merata. Sebagian perempuan harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk memeriksakan kehamilan. Sebagian lainnya memilih diam karena rasa malu, stigma, atau bahkan ketidaktahuan bahwa kondisi yang dialaminya berbahaya.

Dalam situasi seperti ini, penyakit yang sebenarnya dapat dicegah—seperti kanker serviks—sering kali baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap lanjut. Setiap 25 menit, satu perempuan Indonesia meninggal akibat penyakit ini. Angka tersebut mungkin terasa jauh, hingga kita menyadari bahwa itu bisa terjadi pada siapa saja: tetangga, saudara, bahkan diri sendiri.

Permasalahan ini tidak tunggal, melainkan berlapis—mulai dari keterbatasan fasilitas kesehatan, kesenjangan antarwilayah, rendahnya literasi kesehatan, hingga norma sosial yang kerap membuat perempuan menempatkan dirinya di urutan terakhir.

Melalui SPRIN, pendekatan yang diusung tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan ekonomi. Gerakan ini dirancang untuk menyentuh berbagai fase kehidupan perempuan, mulai dari edukasi kesehatan reproduksi sejak remaja, pendampingan kehamilan, hingga perhatian pada masa menopause yang kerap terabaikan. Termasuk di dalamnya adalah penguatan literasi finansial untuk mendukung akses terhadap layanan kesehatan.

Di balik berbagai upaya tersebut, terdapat satu gagasan besar: perempuan harus memiliki kendali atas kesehatannya sendiri.

Salah satu wujud konkret dari gerakan ini adalah rencana pembangunan Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN), sebuah ruang terpadu yang diharapkan menjadi tempat perempuan belajar, berkonsultasi, dan memperoleh layanan kesehatan tanpa rasa takut maupun stigma.

Sebuah ruang aman—di mana perempuan dapat berbicara tentang tubuhnya tanpa dihakimi. Tempat di mana kesehatan tidak lagi menjadi hal yang menakutkan, melainkan hak yang dapat diakses secara layak.

SPRIN juga menegaskan bahwa upaya menyelamatkan perempuan bukanlah tanggung jawab satu pihak. Diperlukan kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dunia usaha, hingga media.

Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci, mengingat persoalan yang dihadapi perempuan Indonesia saling terkait dengan aspek pendidikan, ekonomi, hingga budaya. Di titik inilah semangat Kartini kembali menemukan relevansinya: perjuangan perempuan hari ini bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga tentang hak untuk hidup sehat dan bermartabat.

Ada satu kalimat sederhana yang menjadi ruh gerakan ini: “When we educate a woman, we educate a nation.”

Kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan pengingat bahwa setiap upaya menyelamatkan perempuan hari ini akan berdampak jauh ke depan—pada anak-anak yang tumbuh lebih sehat, keluarga yang lebih kuat, serta bangsa yang lebih siap menghadapi masa depan.

Di Hari Kartini ini, pertanyaannya menjadi sederhana namun mendalam. Sudahkah kita benar-benar memastikan perempuan Indonesia hidup dengan aman, sehat, dan berdaya? Karena pada akhirnya, menyelamatkan perempuan bukan hanya tentang mereka. Ini tentang kita semua. ***

Post Comment