Dari Klinik Kecantikan ke Ruang Kelas NTT: Kolaborasi ZAP, Plan Indonesia, dan Para Publik Figur Hadirkan Perubahan Nyata
puanpertiwi.com – Ramadan kerap menjadi momen untuk menata ulang makna kepedulian. Bukan hanya tentang niat baik, tetapi bagaimana kepedulian itu diwujudkan melalui aksi nyata yang berdampak bagi sesama.
Semangat itulah yang mendorong ZAP Clinic bersama Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dan LEE Management menggelar konferensi pers bertajuk “Ramadan for A Brighter Change: Aksi Kebaikan untuk Indonesia Timur” pada 6 Maret 2026. Inisiatif ini menghadirkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan industri kecantikan, organisasi sosial, serta para figur publik untuk menyoroti isu pendidikan dan sanitasi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Urgensi program ini tidak terlepas dari kondisi pendidikan di wilayah tersebut. Berdasarkan data Kemendikdasmen, NTT mencatat persentase sekolah rusak tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 29,93 persen. Di sejumlah daerah terpencil, ruang kelas masih berdinding kayu sederhana, beratap bocor, bahkan berlantaikan tanah. Kondisi tersebut tentu jauh dari standar minimal ruang belajar yang aman dan layak bagi anak-anak.
Melihat realitas tersebut, ZAP Clinic, Plan Indonesia, dan LEE Management bersama sejumlah figur publik seperti Joe Taslim, Wulan Guritno, Winky Wiryawan, Kenes Andari, Shalom Razade, Gerin Nathanael, serta Ida Rhijnsberger melakukan kegiatan Voluntrip ke Kabupaten Manggarai, NTT pada 3–4 Februari 2026.
Dalam kunjungan tersebut, para relawan terlibat langsung membantu renovasi ruang kelas, memperbaiki fasilitas belajar, membangun toilet ramah anak perempuan, serta memberikan edukasi kesehatan dan sanitasi bagi siswa, guru, dan orang tua.
Managing Director LEE Management, Bucie Lee, mengatakan bahwa keterlibatan para talent dalam kegiatan ini merupakan bentuk pemanfaatan pengaruh publik untuk menyuarakan isu sosial yang lebih luas.
“Kehadiran langsung di lapangan memberi ruang untuk belajar, mendengar, dan memahami realitas yang dihadapi anak-anak dan masyarakat,” ujarnya saat sesi press conference, Jumat, 6 Maret 2026 di Atrium Senayan City.
Aktor Joe Taslim yang telah dua kali mengikuti program relawan bersama Plan Indonesia mengaku setiap kunjungan selalu membuka perspektif baru tentang kesenjangan akses dasar.
“Masih banyak anak-anak yang belum memiliki akses belajar yang memadai dan aman, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti air bersih pun masih terbatas. Ketika melihat langsung kondisi itu, rasanya sulit untuk hanya diam,” ungkap Joe.

Bagi Wulan Guritno, pengalaman tersebut juga memiliki makna personal. Sebagai seorang ibu dan perempuan yang aktif berkarier, ia berharap lebih banyak anak perempuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan.
“Pendidikan membuka jalan bagi mereka untuk percaya diri dan berani bermimpi. Ketika kita memastikan mereka memiliki akses belajar yang aman dan layak, kita sebenarnya sedang membangun masa depan yang lebih setara,” ujar Wulan.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menegaskan bahwa akses terhadap pendidikan yang aman, sanitasi layak, dan air bersih merupakan hak dasar setiap anak.
“Di banyak wilayah terpencil, tantangan akses air bersih dan sanitasi aman masih nyata. Kolaborasi lintas sektor seperti ini penting untuk memperkuat pesan sekaligus menghadirkan aksi nyata,” katanya.
Program ini juga menjadi bagian dari inisiatif SAFE School Plan Indonesia yang mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan ramah anak perempuan.
Melalui inisiatif “Ramadan for A Brighter Change”, kolaborasi ini ingin menegaskan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil—dari ruang kelas yang diperbaiki, dari akses air bersih yang dihadirkan, hingga dari kesadaran kolektif untuk tidak menutup mata terhadap realitas yang masih dihadapi banyak anak di Indonesia. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.