The Devil Wears Prada 2 Hidupkan Kembali Fashion Era Ikonik, Buttonscarves Ubah Nostalgia Jadi Gaya Masa Kini

puanpertiwi.com – Dua dekade setelah pertama kali mendefinisikan dunia fashion di layar lebar, The Devil Wears Prada kembali menjadi perbincangan lewat sekuelnya yang tayang tahun ini. Namun kebangkitan film ikonik tersebut tidak hanya terasa di bioskop, melainkan juga merambah ke dunia fashion dan gaya hidup generasi masa kini.

Melihat antusiasme itu, Buttonscarves menghadirkan koleksi kolaborasi terbaru yang terinspirasi dari The Devil Wears Prada 2—membawa kembali nuansa editorial fashion yang kuat ke dalam interpretasi yang lebih modern, wearable, dan dekat dengan keseharian perempuan urban saat ini.

Bagi banyak pencinta fashion, The Devil Wears Prada bukan sekadar film tentang industri mode. Film tersebut telah menjadi bagian dari budaya populer yang membentuk cara pandang terhadap ambisi, identitas, dan personal style. Karakter-karakter kuat di dalamnya menghadirkan citra perempuan modern yang independen, ekspresif, dan berani menunjukkan dirinya melalui fashion.

Kini, semangat itu diterjemahkan Buttonscarves lewat koleksi yang memadukan elemen klasik fashion editorial dengan sentuhan contemporary lifestyle khas generasi sekarang.

“Kolaborasi ini sangat spesial bagi kami karena The Devil Wears Prada bukan sekadar film, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya fashion itu sendiri,” ujar CEO Buttonscarves, Linda Anggrea.

Menurut Linda, koleksi ini ingin menghadirkan kembali cerita ikonik tersebut dalam bentuk yang lebih relevan dengan komunitas Buttonscarves hari ini—perempuan yang menjadikan fashion sebagai medium ekspresi diri sekaligus bagian dari pengalaman hidup mereka.

Koleksi dibuka lewat peluncuran The Editor Square pada 24 April lalu. Menggabungkan signature handwritten khas Buttonscarves dengan motif houndstooth klasik, scarf ini menghadirkan nuansa fashion editorial yang terasa timeless namun tetap modern.

Tidak berhenti pada scarf, koleksi kemudian berkembang menjadi lifestyle collection yang lebih luas melalui apparel, aksesori, hingga tas. Tailored shirts, oversized silhouette, dan puff sleeve menjadi interpretasi gaya yang memadukan struktur formal khas dunia editorial dengan sentuhan feminin yang lebih effortless.

Sementara itu, aksesori seperti Elia Sunglasses Chain hingga reinterpretasi Joy Bag Small dan Alba Bag dirancang untuk melengkapi tampilan yang terinspirasi dari runway look, namun tetap relevan digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Menariknya, koleksi ini diluncurkan secara bertahap mengikuti momentum penayangan The Devil Wears Prada 2 di bioskop mulai 29 April 2026. Strategi ini membuat koleksi terasa seperti bagian dari pengalaman menikmati film itu sendiri.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana batas antara fashion dan entertainment kini semakin tipis. Fashion tidak lagi berdiri sendiri sebagai produk, tetapi menjadi bagian dari narasi budaya populer yang membangun emosi, identitas, dan komunitas.

Buttonscarves pun memperkuat pengalaman tersebut melalui aktivasi bertajuk Movie Date with The BSLady yang digelar serentak di 20 kota di Indonesia pada 1 Mei. Lewat acara nonton bersama, komunitas BSLady diajak merasakan antusiasme terhadap film dan koleksi ini secara kolektif.

Di era ketika fashion semakin experience-driven, langkah ini menunjukkan bagaimana brand kini tidak hanya menjual pakaian atau aksesori, tetapi juga menghadirkan momen kebersamaan dan cultural experience yang lebih personal.

“Setelah perayaan 10 tahun Buttonscarves bersama komunitas, kami ingin terus menghadirkan momen kebersamaan. Karena itu kami menghadirkan kembali Movie Date with BSLady agar antusiasme terhadap film dan kolaborasi ini bisa dirasakan bersama-sama,” kata Linda.

Kolaborasi ini sekaligus mencerminkan perubahan cara masyarakat menikmati fashion saat ini. Jika dulu fashion identik dengan runway dan editorial majalah, kini fashion hidup melalui film, media sosial, komunitas, hingga pengalaman sehari-hari yang terasa lebih dekat dan relatable.

Melalui perpaduan fashion, film, dan komunitas, Buttonscarves memperlihatkan bahwa nostalgia tidak selalu harus terasa lama. Di tangan generasi baru, cerita ikonik seperti The Devil Wears Prada justru bisa lahir kembali menjadi bagian dari gaya hidup modern yang lebih ekspresif, personal, dan relevan dengan cara perempuan masa kini mendefinisikan dirinya. ***

Post Comment