Netflix Effect: Saat Cerita Lokal Indonesia Menjangkau Dunia dan Menggerakkan Ekonomi Kreatif
puanpertiwi.com – Layanan streaming global Netflix merilis laporan terbaru bertajuk The Netflix Effect, yang mengungkap bagaimana film dan serial tidak lagi sekadar menjadi hiburan, tetapi juga ikut memberi dampak ekonomi, budaya, hingga sosial di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, Netflix tercatat telah berkontribusi lebih dari US$325 miliar terhadap ekonomi global.
Di balik angka fantastis tersebut, ada perubahan besar dalam cara cerita lokal menemukan penontonnya. Jika sepuluh tahun lalu konten non-English hanya menyumbang kurang dari 10 persen konsumsi tontonan di Netflix, kini porsinya telah melampaui sepertiga total tayangan global. Perubahan ini membuka ruang yang lebih luas bagi sineas dari berbagai negara untuk tampil tanpa harus mengikuti formula Hollywood.
Co-CEO Ted Sarandos mengatakan, ekspansi Netflix ke lebih dari 190 negara membuat produksi lokal berkembang pesat di berbagai wilayah dunia. Menurutnya, setiap produksi Netflix pada dasarnya adalah produksi lokal yang menciptakan lapangan kerja sekaligus menghidupkan bisnis setempat.
Secara global, Netflix telah menginvestasikan lebih dari US$135 miliar untuk produksi film dan serial, menciptakan lebih dari 425 ribu lapangan kerja dan melibatkan lebih dari 700 ribu pekerja tambahan, mulai dari figuran hingga kru harian produksi.
Di Indonesia sendiri, dampaknya mulai terlihat semakin nyata. Hingga Januari 2025, sebanyak 35 judul Indonesia berhasil masuk daftar Global Top 10 Non-English Netflix. Bahkan, lebih dari 90 persen pengguna Netflix di Indonesia tercatat menonton konten lokal sepanjang 2025.
Beberapa judul Indonesia bahkan berhasil menembus pasar internasional dengan capaian yang signifikan. Film zombie Abadi Nan Jaya meraih lebih dari 11 juta penayangan hanya dalam beberapa hari setelah dirilis dan sempat menduduki posisi nomor satu Global Top 10 Netflix serta masuk Top 10 di 75 negara.
Sementara serial Gadis Kretek tak hanya sukses secara global, tetapi juga memicu ketertarikan baru terhadap budaya Indonesia. Kebaya janggan yang dikenakan karakter Jeng Yah kembali ramai dibicarakan, sementara lokasi seperti Museum Kretek hingga Museum Kereta Api Ambarawa ikut mendapat perhatian publik setelah serial tersebut tayang.
Fenomena menarik lainnya terlihat dari bagaimana penonton ikut menciptakan budaya pop baru lewat berbagai parodi kreatif seperti “Gadis Kresek” hingga “Gadis Klathak”, yang mengadaptasi adegan ikonik serial tersebut dengan sentuhan humor dan isu lokal.
Sutradara Lucky Kuswandi menilai keberagaman audiens di Netflix memberi ruang lebih bebas bagi sineas untuk mengeksplorasi cerita tanpa terikat genre tertentu. Menurutnya, ekosistem seperti ini penting untuk memperkuat berbagai suara dari Indonesia sekaligus menghadirkan cerita yang relevan secara global.
Tak hanya menghadirkan tontonan, Netflix juga mulai memperkuat ekosistem industri kreatif lokal melalui berbagai program pelatihan. Bersama program Reel Life di Indonesia dan Thailand, lebih dari 300 calon kreator film dan televisi telah mendapat pelatihan praktis untuk masuk ke industri. Selain itu, lebih dari 500 profesional produksi lokal juga mendapat pelatihan mulai dari editor, line producer, hingga production accountant.
Kolaborasi dengan Asosiasi Produser Film Indonesia juga dilakukan melalui workshop produksi dan pengembangan panduan keselamatan produksi nasional pertama di Indonesia.
Perjalanan konten Indonesia di Netflix menunjukkan bahwa cerita lokal kini tak lagi berhenti sebagai konsumsi domestik. Ketika sebuah serial atau film berhasil menjangkau audiens global, dampaknya ikut bergerak ke banyak arah — mulai dari pariwisata, budaya pop, industri kreatif, hingga membuka peluang baru bagi para kreator Indonesia untuk tampil di panggung dunia. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.