Amartha Dorong Kesehatan Finansial UMKM Lewat The 2026 Asia Grassroots Forum

puanpertiwi.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tantangan biaya hidup yang terus meningkat, kesehatan finansial kini mulai dipandang sebagai fondasi penting untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil dan ekonomi masyarakat akar rumput. Isu inilah yang diangkat Amartha melalui penyelenggaraan The 2026 Asia Grassroots Forum bertema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”.

Forum yang akan digelar pada 3–4 Juni di Shangri-La Jakarta ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk membahas bagaimana akses keuangan digital dapat berkembang lebih jauh, bukan hanya membuka peluang pembiayaan, tetapi juga membantu masyarakat mengelola keuangan secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Bagi pelaku UMKM, terutama perempuan di akar rumput, tantangan usaha tak lagi sebatas mencari modal. Ketidakstabilan pendapatan, tekanan kebutuhan rumah tangga, hingga kemampuan mengatur arus kas menjadi persoalan yang semakin kompleks. Padahal, UMKM memegang peran vital dalam ekonomi Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai akses permodalan masih menjadi tantangan terbesar bagi banyak UMKM di Indonesia. Menurutnya, fintech dan layanan P2P lending dapat menjadi jembatan penting untuk memperluas akses pembiayaan yang lebih cepat dan tepat sasaran, selama diarahkan untuk aktivitas produktif dan didukung tata kelola yang baik.

Sementara itu, Poppy Ismalina menekankan bahwa pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya melalui akses modal. Literasi keuangan, kemampuan mengambil keputusan, hingga rasa percaya diri dalam menggunakan layanan keuangan digital juga menjadi bagian penting dalam menciptakan ketahanan ekonomi keluarga dan usaha.

Konsep financial health atau kesehatan finansial sendiri kini menjadi perhatian global. Mengacu pada UNSGSA, kesehatan finansial mencerminkan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan harian, menghadapi risiko, mengelola kewajiban, serta merasa percaya diri terhadap kondisi keuangannya di masa depan. Dalam konteks UMKM, hal ini berarti kemampuan menjaga arus kas usaha, merencanakan pengembangan bisnis, hingga bertahan di tengah tekanan ekonomi.

Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan bahwa keberhasilan inklusi keuangan kini tidak lagi hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang memiliki akses layanan keuangan, tetapi juga dari kemampuan mereka bertahan dan tumbuh secara berkelanjutan.

Selama lebih dari 16 tahun, Amartha sendiri telah mendampingi UMKM akar rumput melalui pembiayaan produktif dan pemanfaatan teknologi digital. Dalam laporan keberlanjutan 2025, perusahaan mencatat 94 persen peminjam mengalami peningkatan pendapatan, sementara 91 persen mulai mampu memisahkan arus kas usaha dan rumah tangga. Bahkan, lebih dari 90 ribu peminjam berhasil merekrut karyawan pertama mereka setelah memperoleh akses pembiayaan.

Melalui The 2026 Asia Grassroots Forum, Amartha ingin mendorong lahirnya ekosistem yang lebih kolaboratif dengan memanfaatkan fintech dan AI untuk memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput. Di tengah transformasi digital yang terus berkembang, forum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak hanya soal akses, tetapi juga tentang menciptakan rasa aman dan daya tahan finansial bagi masyarakat luas. ***

Post Comment