Health

Jangan Abaikan Hipertensi, Tetap Patuhi Pengobatan di Masa Pandemi

puanpertiwi.com – Mengingat kondisi Covid-19 saat ini, hipertensi dihimbau untuk tetap patuh  pada pengobatan pada masa pandemi sekarang ini.

terlihat, hipertensi merupakan nama lain penyakit tekanan darah tinggi di dalam istilah medis.

Pengertian hipertensi adalah di mana kondisi tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 milimeter merkuri (mmHG).

Angka 140 mmHg tersebut merujuk pada bacaan-bacaan sistolik, ketika jantung darah memantau ke seluruh tubuh atau saat berkontraksi.

Sementara itu, angka 90 mmHg mengacu pada bacaan diastolik, rileks ketika beristirahat atau dalam keadaan saat mengisi ulang bilik-biliknya dengan darah.

Tekanan darah tinggi ini dapat mengakibatkan berbagai komplikasi kesehatan yang membahayakan nyawa sekaligus meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, bahkan kematian.

Karena itu, terkait dengan hipertensi di masa pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat luas juga diingatkan untuk menggunakan fasilitas telemedicine yang telah tersedia dengan berbagai pendekatan.

Mengingat Hipertensi merupakan penyakit  penyerta atau komorbid tertinggi dan berbahaya bagi pasien terinfeksi virus Covid-19 di dunia, termasuk di Indonesia.

Hal ini diungkapkan Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dr Erwinanto SpJP(K) mengatakan, jumlah penyandang hipertensi di Indonesia relatif tinggi dan kecenderungannya tidak menunjukkan penurunan dalam satu dekade terakhir.

“Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan survey tahun 2018 yaitu sekitar 34% tidak berubah dari angka yang didapat pada survey tahun 2007,” ungkap dia dalam konferensi pers bertema virtual “Apakah tatalaksana hipertensi di masa Covid-19 ada perbedaan?”, Jumat 17 Februari 2022.

Lebih lanjut Erwinanto mengatakan, adapun penyebab tingginya kasus baru hipertensi akibat tingginya faktor risiko hipertensi seperti diabetes mellitus (kencing manis), kegemukan, konsumsi garam yang tinggi dan merokok.

Namun, Erwinanto juga memberikan konfirmasi, diagnosis hipertensi tidak dapat hanya mengandalkan satu kali pemeriksaan di klinik.

Sementara, dalam penegakkan diagnosis bagi sebagian besar penyandang hipertensi memerlukan pengukuran tekanan darah pada beberapa kali kunjungan klinik atau, sebagai alternatif.

“Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia memeriksa pemeriksaan tidak hanya dalam satu kali kunjungan. Harusnya diperiksa beberapa kali kunjungan bilang iya hipertensi,” ujarnya.

Hal ini dapat dilakukan melalui pemeriksaan di luar klinik menggunakan Home Blood pressure Monitoring (HBPM) atau Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM).

Pengukuran strategi menggunakan ABPM bisa sebagai gambaran dinamika pola tekanan darah pagi dan malam hari. Alat ini juga sudah mulai banyak digunakan di Indonesia.

“Kita ingin mengetahui apakah pasien tertentu itu ternyata hipertensi di rumah atau ketika memakai pemantauan tekanan darah rawat jalan ,” ujar Erwinanto.

Sedangkan menurutnya, diagnosis hipertensi yang dilakukan dengan satu kali pengukuran tekanan darah di klinik menyebabkan masuknya pasien ‘hipertensi jas putih’ (white-coat hypertension) ke dalam diagnosis hipertensi.

“Pasien dengan diagnosis hipertensi jas putih mencapai 30% dari semua pasien yang terdeteksi mempunyai tekanan darah tinggi di klinik, tidak memerlukan terapi obat penurun tekanan darah,” lanjutnya

Namun dalam kasus hipertensi ini, Erwinanto juga mengemukakan tingkat kesadaran penyandang hipertensi yang minum obat dan terkontrol tekanan darahnya di Indonesia masih rendah.

“Survey May Measurement Month mencatat hanya sekitar 37% penyandang hipertensi yang
minum obat mempunyai tekanan darah yang terkontrol (kurang dari 140/90 mm Hg),” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen InaSH, dr. Djoko Wibisono, Sp.PD-KGH, mengatakan dengan adanya pencapaian target kontrol tekanan darah dalam jangka panjang, dapat menghindari terjadinya kerusakan organ yang
disebabkan oleh hipertensi atau Hypertension – Mediated Organ Damage (HMOD).

“Seperti stroke, serangan jantung dan kerusakan ginjal yang dapat mengakibatan kematian,” kata Djoko Wibisono.

Terkait dengan Penyakit Ginjal Kronik (PGK), Djoko mengatakan sebanyak 1.017.260 penduduk Indonesia menderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK).

“Berdasarkan Riskesdas 2018, sebanyak 3,8 per 1000 penduduk atau 1.017.260 penduduk Indonesia menderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Dari total seluruh penduduk Indonesia yang menderita PGK, 19.3% diantaranya menjalani cuci darah (Hemodialisis), yaitu kurang lebih 196.332 penduduk,” ujarnya.

PGK sendiri dapat disebabkan karena kelainan struktur atau gangguan fungsi ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan dan eLFG < 60ml/mnt yang berlangsung lebih dari 3 bulan dengan atau tanpa disertai kerusakan ginjal.

Dia juga mengatakan selain hipertensi, pasien penderita diabetes juga perlu melakukan deteksi fungsi ginjal.

“Penderita diabetes dan hipertensi perlu secara berkala melakukan deteksi fungsi ginjal untuk mengendalikan kerusakan ginjal,” kata Djoko.

Menurutnya, dengan adanya penurunan fungsi ginjal akibat PGK dapat diperlambat dengan terapi medis, perubahan gaya hidup dan melakukan konsultasi dengan dokter.

Sementara, untuk memastikan kondisi ginjal seseorang terdapat beberapa tes yang bisa dilakukan, antara lain:
– Tes darah (menilai kinerja ginjal dengan melihat kadar limbah dalam)
– Tes darah (ureum, kreatinin)
– Tes urine (mengetahui kadar protein, rasio albumin dan kreatinin dalam urine)
– Imaging untuk melihat struktur dan ukuran ginjal (USG, MRI, CT Scan)
– Biopsi ginjal (dilakukan dengan mengambil sampel kecil dari jaringan ginjal, kemudian dianalisis untuk menentukan penyebab kerusakan ginjal.

Menurutnya, PGK dapat diatasi/diobati, dan PGK bukan akhir segalanya.

Lebih lanjut, Djoko menjelaskan bahwa kualitas hidup pasien PGK dapat memberikan kualitas hidup orang sehat.

“PGK dapat dicapai dengan 7 aturan emas, yakni: Pola hidup sehat, olahraga, tidak merokok dan mengkonsumsi alkohol), tidak mengkonsumsi obat-obatan tanpa anjuran dokter, pemeriksaan medis (mengetahui fungsi ginjal), orang dengan tekanan darah tinggi , atau kadar gula tinggi evaluasi lebih lanjut karena kontrol hipertensi dan diabetes adalah faktor kunci pencegahan PGK,” tambahnya.

Adapun yang dimaksud dengan pola makan sehat di sini adalah, harus selalu memperhatikan sayur-sayuran, dan juga buah-buahan, dalam setiap porsi makanan.***

Wartawan: Dwi Kartika Sari

Tags : featured

Leave a Response