Ketika Fandom Menjadi Ruang Bertahan Hidup: Cerita Menyentuh dalam Series ‘Night Shift for Cuties’

puanpertiwi.com – Di balik rak-rak ramyeon instan, lampu neon minimarket yang menyala sepanjang malam, serta hiruk-pikuk dunia K-pop yang penuh warna, tersimpan kisah tentang kesepian, kehilangan, dan perjuangan menjadi dewasa. Itulah yang coba dihadirkan serial terbaru Night Shift for Cuties, yang resmi dirilis pada 4 Juni 2026.

Diproduksi oleh Soda Machine Films dan menjadi debut serial bagi sutradara Monica Vanesa Tedja atau Mica, Night Shift for Cuties menawarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cerita tentang penggemar K-pop. Serial ini justru menjadikan fandom sebagai pintu masuk untuk membicarakan luka-luka yang sering kali tidak terlihat.

Berlatar di K-Nyeong Mart, sebuah pasar swalayan kecil bernuansa Korea, cerita mengikuti perjalanan Muti (Shenina Cinnamon) dan Jenar (Nadya Syarifa), dua perempuan muda yang dipertemukan oleh pekerjaan shift malam sekaligus kecintaan mereka terhadap grup idola fiktif asal Korea, Purple Tea.

Namun, di balik kesamaan tersebut, keduanya menyimpan beban hidup yang tidak ringan.

Muti harus menjalani hidup sebagai tulang punggung keluarga setelah kehilangan sosok ibu. Sementara Jenar terus bergulat dengan rasa tidak percaya diri, tekanan lingkungan, dan kebutuhan untuk merasa diterima.

“Karakter Muti adalah sosok yang pekerja keras. Dia benar-benar menggambarkan seorang sandwich generation yang harus menghadapi banyak tekanan dan tanggung jawab dalam hidupnya. Namun yang menarik, Muti tidak pernah menyerah. Dia terus berusaha berkembang dan mencari berbagai cara untuk menggapai mimpinya, termasuk impian untuk bertemu dengan idolanya,” ujar Shenina Cinnamon saat konferensi pers.

Menurut Shenina, yang membuat Muti terasa dekat dengan banyak anak muda saat ini adalah kemampuannya untuk tetap bermimpi di tengah tekanan hidup yang terus datang.

“Sebagai seorang sandwich generation, Muti harus menghadapi berbagai tanggung jawab keluarga setelah kehilangan ibunya. Di tengah semua tekanan itu, dia tetap punya mimpi untuk dirinya sendiri. Salah satunya adalah bertemu dengan idolanya. Bagi Muti, sosok tersebut bukan sekadar selebritas, melainkan sumber semangat yang membuatnya tetap bertahan,” lanjutnya.

Sementara itu, bagi Jenar, dunia fandom menjadi ruang aman yang memberinya keberanian untuk menghadapi kehidupan sehari-hari.

“Karakter Jenar menghadapi banyak tantangan dalam hidupnya, mulai dari penilaian orang lain, tekanan keluarga, hingga berbagai perjuangan pribadi yang harus dihadapi setiap hari. Di balik itu semua, ada satu hal yang menjadi sumber kekuatannya, yaitu sosok idola yang sangat ia kagumi,” kata Nadya Syarifa.

“Dia ingin menjadi pribadi yang lebih percaya diri, sehingga seolah-olah meminjam rasa percaya diri dari idolanya untuk membantunya melewati berbagai tantangan hidup.”

Melalui dua karakter tersebut, Night Shift for Cuties membedah fenomena yang semakin dekat dengan generasi muda saat ini: hubungan parasosial. Sebuah relasi satu arah ketika penggemar merasa sangat dekat dengan figur publik yang sebenarnya tidak mengenal mereka secara personal.

Alih-alih menghakimi, serial ini justru mencoba memahami mengapa hubungan seperti itu bisa terbentuk.

Mica mengungkapkan bahwa ia banyak menghabiskan waktu membaca forum-forum penggemar, termasuk di Reddit, untuk memahami bagaimana seseorang bisa menjadikan idolanya sebagai tempat berlabuh secara emosional.

“Kami tidak mau bilang menjadi penggemar itu salah, justru itu sangat manusiawi. Tapi yang menarik adalah ketika batas antara realitas dan fantasi mulai kabur. Di situ biasanya ada luka yang belum selesai,” ujar Mica.

Karena itu, Purple Tea tidak diciptakan hanya sebagai grup idola pelengkap cerita. Grup fiktif tersebut dibangun dengan sangat detail, lengkap dengan identitas, lagu, karakter anggota, hingga semesta fandom bernama Cutieverse.

“Untuk Jenar dan Muti, Purple Tea bukan sekadar idola, tapi tempat pulang,” kata Mica.

Keseriusan itu bahkan membawa tim produksi melakukan syuting langsung di Seoul, Korea Selatan. Menurut produser Kevin Ryan Himawan, keputusan tersebut diambil agar dunia K-pop yang dihadirkan terasa autentik dan hidup.

“Ketika Mica hadir dengan ide K-pop fandom, rasanya tidak pas kalau kami tidak all out. Karena itu kami memutuskan untuk memberikan glimpse dunia K-pop yang nyata dengan syuting di Korea Selatan,” ujarnya.

Namun di balik visual yang manis dan nuansa fangirl yang akrab bagi banyak penonton muda, Night Shift for Cutiessebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih universal: kebutuhan manusia untuk merasa dicintai, diterima, dan cukup.

“Serial ini seperti bawang. Dari luar mungkin terlihat ringan dan sederhana, tetapi semakin dikupas, semakin banyak emosi dan makna yang terungkap,” kata Mica.

“Night Shift for Cuties adalah serial yang sangat jujur dalam menggambarkan emosi manusia. Kami ingin mengajak penonton untuk menerima dan merangkul seluruh emosi yang mereka miliki. Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan sederhana: jadilah diri sendiri dan jangan takut untuk merasakan apa yang sedang dirasakan.”

Melalui kisah dua perempuan muda yang berjuang bertahan hidup di antara tagihan keluarga, jam kerja malam, dan mimpi bertemu idola, Night Shift for Cuties menjadi lebih dari sekadar serial tentang fangirl. Ia adalah potret generasi muda yang terus mencari tempat pulang di tengah dunia yang sering kali terasa terlalu bising.

Dan mungkin, bagi sebagian penonton, tempat pulang itu memang bisa berbentuk lagu favorit, poster idola di kamar, atau mimpi sederhana yang membuat mereka tetap bertahan hingga esok pagi. ***

Post Comment