Merawat Tradisi dari Panggung Tari, Kisah Pengrajin Gerabah Borobudur Hadir di Indonesia Kaya

puanpertiwi.com – Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, kisah para pengrajin gerabah di kawasan Borobudur justru menemukan panggung baru lewat seni pertunjukan. Melalui Tari Obah Gerabah yang dipersembahkan Sanggar Seni Lemah Urip di Galeri Indonesia Kaya, tradisi yang selama ini hidup di ruang-ruang sederhana masyarakat diangkat menjadi pertunjukan penuh makna dalam rangkaian perayaan Hari Tari Sedunia 2026.

Tidak sekadar menampilkan keindahan gerak tari, karya berdurasi 60 menit ini mengajak penonton menyelami kehidupan para pengrajin gerabah yang menggantungkan hidup dari tanah liat. Lewat perpaduan tari, musik, dan properti gerabah, pertunjukan menghadirkan gambaran tentang gotong royong, ketekunan, hingga perjuangan menjaga tradisi agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

“Perayaan Hari Tari Sedunia tidak berhenti pada satu momentum saja. Melalui rangkaian pertunjukan sepanjang Mei di Galeri Indonesia Kaya, kami ingin menghadirkan ruang apresiasi bagi ragam tari dan komunitas seni yang terus menjaga tradisi di tengah masyarakat,” ujar Renitasari Adrian.

Menariknya, gerabah dalam pertunjukan ini bukan hanya hadir sebagai properti artistik. Bunyi-bunyian yang dihasilkan dari alat gerabah turut menjadi elemen musik utama yang membangun suasana panggung. Penonton bahkan diajak ikut memainkan alat musik gerabah dan merasakan langsung energi pertunjukan yang lahir dari denting ritme tradisional.

Dikoreografikan oleh Derra Kartika, karya ini memadukan unsur tari tradisional dengan pendekatan teatrikal yang dekat dengan keseharian masyarakat pengrajin. Kostum, musik, hingga penggunaan properti dirancang untuk merefleksikan kehidupan warga Borobudur yang menjadikan gerabah sebagai warisan sekaligus sumber penghidupan keluarga.

“Melalui Tari Obah Gerabah, kami ingin menunjukkan bahwa gerabah bukan sekadar benda kerajinan, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat yang menjadi sumber penghidupan keluarga secara turun-temurun,” kata Derra.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Tari Obah Gerabah juga menjadi cerminan misi sosial Sanggar Seni Lemah Urip. Berbasis di Desa Karanganyar, Borobudur, komunitas ini aktif memberikan pendidikan seni gratis bagi anak-anak dan masyarakat melalui kelas gerabah, tari, dan gamelan. Bagi pendiri sanggar, Muhammad Jafar atau yang akrab disapa Jepe, seni adalah bagian dari identitas masyarakat yang harus terus diwariskan.

“Gerabah, tari, dan gamelan bukan hanya kesenian bagi kami, tetapi bagian dari identitas dan keseharian warga yang perlu terus dijaga,” ujarnya.

Kehadiran Tari Obah Gerabah menjadi bukti bahwa tradisi tak selalu harus tinggal di masa lalu. Di tangan komunitas muda seperti Sanggar Seni Lemah Urip, budaya lokal justru menemukan cara baru untuk tetap hidup, menyentuh generasi sekarang, sekaligus menjaga denyut warisan Nusantara agar terus berlanjut. ***

Post Comment