Dari Layar ke Dunia: Satu Dekade Mengangkat Suara Kreator Indonesia

puanpertiwi.com – Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, live streaming tak lagi sekadar hiburan. Ia telah menjelma menjadi ruang baru bagi ekspresi, peluang, bahkan masa depan. Dalam satu dekade terakhir, Bigo Live menjadi salah satu pemain yang ikut membentuk lanskap tersebut—termasuk di Indonesia.

Sejak diluncurkan pada 2016, platform ini telah menjangkau sekitar 700 juta pengguna di lebih dari 150 negara. Indonesia pun menjadi salah satu pasar kunci, bukan hanya dari sisi jumlah pengguna, tetapi juga kualitas talenta yang mampu bersaing di panggung global.

“Indonesia memiliki komunitas kreator yang luar biasa,” ujar perwakilan Bigo Live Indonesia. “Kami melihat bagaimana kreativitas lokal—bahkan dari hal sederhana seperti budaya batik—bisa menjangkau audiens dunia.”

Perayaan ulang tahun ke-10 yang berlangsung pada April 2026 menjadi bukti nyata bagaimana kreator Indonesia tidak hanya hadir, tetapi juga mendominasi. Sejumlah nama berhasil menembus peringkat global, termasuk komunitas kreator seperti INFERNO dan LIBRA yang masuk jajaran top dunia. Di sisi individu, kreator Indonesia juga menunjukkan taringnya melalui berbagai kompetisi internasional.

Salah satu sorotan datang dari ajang Miss Bigo 2026, di mana kreator asal Indonesia, KRYSTAL, berhasil meraih posisi terbaik di tingkat nasional dan tampil di panggung global di Ho Chi Minh City bersama kreator dari 14 negara lainnya. Ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga perayaan keberagaman dengan tema “Embrace Different”.

Namun, perjalanan satu dekade ini tidak hanya berbicara soal popularitas.

Lebih dari itu, platform ini perlahan membangun ekosistem yang mendorong lahirnya ekonomi kreator—sebuah sektor yang secara global diproyeksikan terus tumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan. Bagi banyak pengguna, platform ini bukan hanya tempat tampil, tetapi juga ruang untuk membangun karier.

Di Indonesia, kontribusi tersebut juga menyentuh aspek yang lebih luas. Melalui kampanye seperti #Bigoberbatik, live streaming dimanfaatkan sebagai medium untuk memperkenalkan budaya lokal ke audiens global. Sementara kolaborasi dengan organisasi seperti Yayasan Peduli Anak menunjukkan bahwa dunia digital juga bisa menjadi jembatan untuk aksi sosial yang nyata.

Di balik layar, ribuan kreator setiap hari membangun koneksi—berbagi cerita, bakat, hingga pengalaman hidup. Dari ajang pencarian bakat hingga komunitas kecil yang saling mendukung, ekosistem ini tumbuh bukan hanya dari teknologi, tetapi dari manusia di dalamnya.

Memasuki dekade kedua, tantangan tentu semakin besar. Namun arah yang diambil tetap jelas: memperluas ruang bagi suara yang beragam, menjaga keamanan pengguna, dan memastikan bahwa setiap interaksi digital bisa membawa dampak nyata.

Di era ketika batas antara dunia nyata dan virtual semakin tipis, satu hal menjadi semakin relevan—bahwa sebuah layar kecil pun bisa membuka jalan besar. Dan bagi banyak kreator Indonesia, perjalanan itu baru saja dimulai. ***

Post Comment