Rupa Kala BINUS–Sarinah: Dari Karya Mahasiswa ke Potensi Industri Ekonomi Kreatif Bernilai Triliunan
puanpertiwi.com – Kolaborasi antara BINUS University dan Sarinah melalui pameran “Rupa Kala – Pameran Karya Mahasiswa” menghadirkan lebih dari sekadar ruang apresiasi karya. Inisiatif ini menjadi representasi nyata bagaimana dunia pendidikan mulai terhubung langsung dengan ekosistem industri kreatif nasional.
Mengusung tema “Budaya Nusantara dari Waktu ke Waktu”, pameran yang berlangsung pada 30 April hingga 11 Mei 2026 di Sarinah, Jakarta, menampilkan beragam karya mahasiswa School of Design BINUS University yang mengolah kekayaan budaya lokal menjadi bahasa desain kontemporer. Dari motif tradisional hingga nilai-nilai filosofis, seluruhnya diinterpretasikan ulang melalui perspektif generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Namun yang membuat “Rupa Kala” menonjol bukan hanya pada kekuatan visualnya, melainkan pada pendekatan yang lebih strategis hingga menjadikan karya mahasiswa sebagai embrio produk industri kreatif. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir telah berkontribusi lebih dari Rp1.300 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan subsektor seperti fesyen, kriya, dan desain sebagai penggerak utama.
Rektor BINUS University menegaskan bahwa integrasi antara pendidikan dan industri menjadi kunci dalam menciptakan talenta yang relevan dengan kebutuhan pasar.
“Mahasiswa hari ini harus mampu melihat budaya bukan hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai sumber nilai ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dari sisi kuratorial, pameran ini dirancang untuk melampaui batas karya akademik. Setiap karya diposisikan sebagai ide yang memiliki peluang komersialisasi, baik dalam bentuk produk desain, konsep branding, hingga eksplorasi visual yang siap dikembangkan lebih lanjut.
“Yang ditampilkan bukan sekadar karya tugas, tetapi potensi produk kreatif yang bisa masuk ke industri,” jelas kurator pameran.
Sebagai mitra strategis, Sarinah memegang peran penting sebagai jembatan antara talenta muda dan pasar. Dalam transformasinya sebagai ruang ritel yang kini berkembang menjadi hub kreatif, Sarinah memberikan platform nyata bagi mahasiswa untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik yang lebih luas.
“Kami ingin memastikan karya kreatif anak muda tidak berhenti sebagai display, tetapi dapat masuk ke ekosistem industri dan memiliki nilai jual,” ungkap perwakilan Sarinah.
Pendekatan pembelajaran yang diusung BINUS University juga menjadi fondasi penting dalam pameran ini. Integrasi antara eksplorasi budaya dan inovasi desain diperkuat dengan pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence dalam proses kreatif yang tetap berpusat pada manusia (human centered). Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk mengeksplorasi ide secara lebih luas tanpa kehilangan akar budaya sebagai sumber inspirasi utama.
“Rupa Kala” turut menghadirkan kolaborasi lintas disiplin dari berbagai program di bawah School of Design, mulai dari Desain Komunikasi Visual, New Media, Animasi, Creative Advertising, Interior Design, Film, hingga Fashion Design. Keberagaman ini menciptakan spektrum karya yang tidak hanya kaya secara visual, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri kreatif yang terus berkembang.
Dean School of Design BINUS University, Danendro Adi. S.Sn., M.Arts, menegaskan bahwa teknologi bukanlah pengganti kreativitas, melainkan alat memperluas kemungkinan.
“Artificial Intelligence adalah enabler yang membuka ruang eksplorasi baru. Yang kami bangun adalah kreativitas yang tetap berakar pada budaya, namun mampu beradaptasi dengan masa depan,” jelasnya.

Di tengah persaingan global, model kolaborasi seperti “Rupa Kala” menjadi semakin relevan. Sinergi antara kampus dan industri dinilai mampu mempercepat transformasi ide menjadi produk, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi kreatif di kawasan.
Lebih dari sekadar pameran, “Rupa Kala” mencerminkan perubahan paradigma: bahwa karya mahasiswa tidak lagi berhenti sebagai output akademik, tetapi dapat menjadi titik awal lahirnya produk, brand, bahkan pelaku industri baru. Dengan mengedepankan kreativitas, pelestarian budaya, dan inovasi, inisiatif ini menghadirkan optimisme bahwa generasi muda Indonesia mampu mengolah warisan budaya menjadi kekuatan ekonomi masa depan. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.