IBD Update 2026 Angkat Tantangan Lonjakan Kasus dan Urgensi Diagnosis Akurat
puanpertiwi.com – Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) terus menunjukkan tren peningkatan, baik secara global maupun di Indonesia.
Namun, rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini membuat gejala awal kerap terabaikan.
Akibatnya, tidak sedikit pasien yang baru mendapatkan diagnosis ketika kondisi telah berkembang ke tahap yang lebih lanjut dan kompleks.
Menjawab tantangan tersebut, RS Abdi Waluyo menginisiasi pertemuan ilmiah IBD Update 2026: Updates on Diagnosis and Management of Inflammatory Bowel Disease (IBD).
Forum ini menghadirkan para pakar nasional dan regional sebagai wadah pertukaran pengetahuan, sekaligus memperkuat kompetensi dokter di Indonesia dalam melakukan diagnosis serta tata laksana IBD yang tepat, komprehensif, dan berbasis perkembangan terkini.
Melalui penyelenggaraan IBD Update 2026, RS Abdi Waluyo menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan penanganan IBD, dengan mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan dan perawatan pasien secara berkelanjutan.
Kegiatan ini diselenggarakan pada 23–24 Januari 2026 di Park Hyatt Jakarta, bekerja sama dengan Asian Education Network in IBD (AEN-IBD) dan Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia (PGI).
IBD sendiri merupakan penyakit yang kompleks dan multifaktorial, melibatkan interaksi antara faktor genetik, sistem imun, lingkungan, serta mikrobiota usus.
Dua bentuk utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, sering kali menunjukkan gejala yang tumpang tindih dengan penyakit lain, termasuk infeksi saluran cerna dan tuberkulosis usus.
Kondisi ini membuat penegakan diagnosis IBD harus dilakukan dengan sangat teliti, melalui pendekatan komprehensif yaitu evaluasi klinis, pemeriksaan endoskopi, histopatologi, serta pemeriksaan penunjang lainnya, untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan kesalahan manajemen IBD.
Dalam sambutannya, Prof. dr. Marcellus Simadibrata, Ph.D, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE, FINASIM, menegaskan bahwa Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan isu kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius.
“Sehingga kami sangat mendukung terselenggaranya IBD Update 2026 sebagai forum ilmiah yang penting dan strategis bagi perkembangan penanganan IBD di dunia, dan khususnya untuk Indonesia,” jelasnya.
Prof. Marcel memaparkan, setelah diagnosis IBD ditegakkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan strategi penanganan yang tepat sejak dini.
“Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, dan peningkatan risiko kanker kolorektal. Oleh karena itu, penilaian aktivitas dan derajat keparahan penyakit menjadi langkah krusial sebelum menentukan terapi yang paling sesuai,” ungkap Prof. Marcel.
Prof. Marcel menegaskan bahwa penanganan IBD tidak dapat dilakukan secara sederhana atau seragam.
Setelah diagnosis, pasien perlu melalui evaluasi komprehensif yang mencakup penilaian aktivitas penyakit, eksklusi infeksi tersembunyi, serta penentuan target terapi yang jelas.
“Pendekatan treat-to-target harus menjadi bagian dari praktik klinik, dengan tujuan tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan jangka panjang,” jelasnya.
Prof. Marcel juga menyoroti bahwa di negara dengan prevalensi infeksi yang masih tinggi seperti Indonesia, skrining infeksi menjadi langkah yang tidak dapat diabaikan dalam tata laksana IBD.
“Beberapa infeksi, khususnya tuberkulosis dan infeksi saluran cerna tertentu, dapat menyerupai atau memperberat perjalanan IBD. Karena itu, skrining menyeluruh sebelum memulai atau mengeskalasi terapi sangat penting untuk menghindari kesalahan diagnosis dan komplikasi yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Terkait kompleksitas IBD ini, Prof. Marcel menyampaikan bahwa RS Abdi Waluyo memandang IBD sebagai penyakit kronis yang memerlukan perhatian khusus dan penanganan komprehensif.
“Oleh karena itu, kami telah mengembangkan RS Abdi Waluyo IBD Center sebagai one-stop service dengan pendekatan holistik oleh tim multidisiplin spesialis dan subspesialis, yang mengintegrasikan layanan diagnosis, terapi, pemantauan jangka panjang, hingga dukungan multidisiplin sesuai kebutuhan pasien,” papar Prof. Marcel.
“RS Abdi Waluyo IBD Center merupakan pusat IBD pertama di Indonesia. Selain itu, RS Abdi Waluyo juga telah menyediakan layanan Intestinal Ultrasound (IUS) sebagai bagian dari pendekatan diagnostik dan monitoring non-invasif, yang berperan penting dalam menilai aktivitas penyakit secara lebih aman dan berulang, serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat dalam tata laksana pasien IBD,” jelasnya.
Tim multidisiplin yang dimaksud, termasuk layanan di bidang Gastroenterologi-Hepatologi (Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi/Endoskopis Gastrointestinal/Ilmu Penyakit Dalam), Penyakit Autoimun, Reumatologi, Nefrologi-Hipertensi, Penyakit Menular Tropis, Pulmonologi, Hematologi-Onkologi, Endokrinologi Metabolik, Dermatologi-Venereologi, Spesialis Kardiovaskular, Gizi, Oftalmologi, Bedah Pencernaan, Spesialis Laboratorium Patologi Klinik, Spesialis Patologi Anatomi, Dokter Umum, dll.
Yang semua bagiannya saling bekerja sama untuk menentukan terapi terbaik.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Choon Jin Ooi, Consultant Gastroenterologist, Associate Professor (Adj.), Duke-NUS Medical School, Singapore, President Asian Education Network in Inflammatory Bowel Disease Group (AEN-IBD) & President Asia Pacific Association of Gastroenterology (APAGE), juga memperkenalkan AEN-IBD.
Prof. Choon mengatakan, AEN-IBD merupakan organisasi profesi medis nirlaba yang telah terdaftar secara resmi pada Registry of Societies, Singapore sejak 30 Januari 2023.
AEN-IBD menghimpun para pakar regional yang merupakan tenaga kesehatan di Asia dengan minat khusus IBD.
“Melalui AEN-IBD, kami berkomitmen untuk memajukan pengetahuan mengenai IBD, mendukung tenaga kesehatan, mendorong kolaborasi multidisiplin, serta mempromosikan excellence in IBD care. Kami juga mendukung terlaksananya IBD Update 2026 sebagai forum ilmiah yang sangat penting dalam memperkuat jejaring dan pertukaran pengetahuan antar klinisi di kawasan Asia.” jelasnya.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, Dokter Penyakit Dalam subspesialis Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi sekaligus Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI), juga menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya IBD Update 2026 sebagai upaya berkelanjutan dalam meningkatkan dan memperluas pemahaman mengenai IBD.
Menurutnya, dukungan dan kolaborasi antar tenaga medis sangat penting dalam menghadapi tantangan diagnosis dan tata laksana IBD di praktik klinik sehari-hari.
Kegiatan ini mencerminkan komitmen bersama untuk terus memperbarui pengetahuan seiring pesatnya perkembangan ilmu dan terapi IBD secara global.
“Dengan dukungan tenaga kesehatan dan forum ilmiah seperti ini, kita dapat terus mendorong excellence in care, sehingga kualitas pelayanan dan luaran klinis pasien IBD dapat ditingkatkan,” jelasnya.
Prof. Ari menjelaskan, di kawasan Asia Tenggara, meskipun angka kejadian IBD masih relatif lebih rendah dibandingkan negara Barat, tren peningkatannya konsisten dari tahun ke tahun.
“Studi di berbagai negara Asia menunjukkan insidensi IBD berkisar antara 0,54 hingga 3,44 per 100.000 penduduk, dengan kecenderungan meningkat seiring perubahan lingkungan dan gaya hidup. Data dari rumah sakit rujukan di Indonesia juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah pasien IBD yang memerlukan penanganan jangka panjang. Kondisi ini, menurutnya, menuntut kesiapan sistem layanan kesehatan serta peningkatan kewaspadaan klinis dalam mengenali dan menangani IBD secara lebih dini dan tepat,” kata Prof. Ari.
Lebih lanjut, Prof. Ari menegaskan, IBD perlu dipahami secara komprehensif sebagai penyakit dengan mekanisme yang kompleks, dimana penyakit ini tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh gangguan toleransi imun yang memicu inflamasi kronis dan perjalanan penyakit yang berulang.
‘Oleh karena itu, pendekatan diagnosis dan tata laksana IBD harus bersifat terintegrasi, tidak hanya berfokus pada gejala klinis, tetapi juga pada mekanisme dasar penyakit,” jelas Prof. Ari.
Dalam sesi ilmiah lainnya, Prof. Ling Khoon Lin, Consultant Gastroenterologist, Adjunct Associate Professor, Duke-NUS Medical School, Singapore, membahas pentingnya penentuan posisi terapi pada pasien IBD dengan derajat sedang hingga berat, baik pada ulcerative colitis maupun Crohn’s disease.
Ia menekankan bahwa tujuan utama terapi IBD saat ini tidak lagi sebatas meredakan gejala, melainkan mencapai target yang lebih komprehensif sesuai rekomendasi STRIDE II dari International Organization for the Study of Inflammatory Bowel Disease (IOIBD), yaitu remisi klinis, normalisasi parameter biokimia, serta penyembuhan mukosa.
“Pendekatan treat-to-target menjadi kunci untuk mencegah progresivitas penyakit dan kerusakan usus jangka panjang,” jelasnya.
Sementara itu, Prof. Ling menegaskan bahwa skrining infeksi laten merupakan bagian penting dari standar tata laksana IBD modern, terutama sebelum pemberian terapi biologik atau small molecules.
la menekankan pentingnya evaluasi tuberkulosis laten, hepatitis B, serta pembaruan status imunisasi sebagai langkah preventif untuk menjamin keamanan terapi jangka panjang sesuai rekomendasi internasional.
“Tidak ada satu terapi yang cocok untuk semua pasien. Keputusan klinis harus mempertimbangkan keseimbangan antara efektivitas, kecepatan respons, keamanan, dan preferensi pasien, agar hasil klinis dan kualitas hidup pasien IBD dapat dioptimalkan,” kata Prof. Ling.
Selain itu, Prof. Jose D. Sollano, Jr., Professor of Medicine, University of Santo Tomas, Philippines, juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap tanda dan gejala IBD pada populasi anak, yang kerap tidak dikenali sejak dini.
Prof. Jose mengungkapkan, kecurigaan terhadap IBD pada anak perlu dipertimbangkan ketika terjadi kasus nyeri perut berulang yang sayangnya sering kali dianggap keluhan biasa dan dibiarkan bertahun-tahun, serta gangguan pertumbuhan yang umumnya berkaitan dengan penurunan nafsu makan dan malnutrisi.
“Selain itu, munculnya anemia pada anak, baik akibat penyakit inflamasi kronis, small bowel disease, maupun perdarahan kecil. Bisa dipehatikan juga jika terjadi keterlambatan pubertas akibat gangguan nutrisi, ke tidakseimbangan hormonal, dan inflamasi kronis,” paparnya.
Riwayat keluarga dengan IBD, menurutnya, secara signifikan juga meningkatkan potensi IBD.
Kondisi fistula-in-ano pada anak juga merupakan kejadian klinis yang sering terlewatkan baik oleh dokter anak maupun ahli bedah kolorektal, sehingga berujung pada tindakan operasi berulang pada usia muda.
“Pengenalan dini IBD pada anak sangat krusial untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan memperbaiki kualitas hidup pasien, sehingga mereka tidak perlu mengalami kondisi IBD yang semakin parah di masa dewasanya,” tegasnya.
Maka, melalui IBD Update 2026, para peserta diharapkan memperoleh pembaruan komprehensif mengenai diagnosis yang tepat, pemilihan terapi yang sesuai dengan karakteristik pasien, serta strategi tata laksana jangka panjang.
Dengan pemahaman yang lebih baik, para dokter diharapkan mampu memberikan penanganan yang lebih terindividualisasi, efektif, dan berorientasi pada kualitas hidup pasien IBD. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.