Lahir di Kastil Tua Saat Badai, Jejak Awal Putri Margaret Rose
puanpertiwi.com – Kastil Glamis, Skotlandia, dikenal sebagai bangunan tua yang sarat sejarah, legenda, dan kisah keluarga bangsawan. Namun pada malam 21 Agustus 1930, kastil itu menjadi saksi sebuah peristiwa yang kelak dikenang dengan nuansa dramatis: kelahiran Putri Margaret Rose, putri kedua dari pasangan Duke dan Duchess of York.
Malam itu, cuaca berubah ekstrem. Angin kencang menyapu dataran Angus, hujan turun tanpa henti, dan petir menyambar langit gelap di sekitar kastil. Badai membuat suasana kian mencekam, terutama karena akses menuju Kastil Glamis menjadi sulit dilalui. Dalam kondisi tersebut, proses persalinan Duchess of York, Elizabeth Bowes-Lyon, berlangsung jauh dari kata tenang.
Sebagai rumah masa kecil sang Duchess, Kastil Glamis menyimpan kehangatan emosional sekaligus kesunyian khas bangunan batu berusia ratusan tahun. Lorong-lorong panjang diterangi cahaya lilin, para pelayan bergerak perlahan dengan wajah tegang, sementara keluarga terdekat menunggu kabar dengan perasaan cemas. Badai yang melanda bukan hanya menutup jalan bagi dokter kerajaan, tetapi juga seolah menambah beban ketegangan malam itu.
Ketika akhirnya suara tangisan bayi terdengar, suasana kastil berubah. Badai yang sebelumnya mengamuk perlahan mereda, menyisakan udara dingin dan keheningan yang menenangkan. Bayi perempuan itu diberi nama Margaret Rose, sebuah nama yang kelak lekat dengan citra keanggunan sekaligus keberanian.

Kisah kelahiran Putri Margaret sering dianggap sebagai simbol awal kehidupan yang penuh dinamika. Ia tumbuh bukan hanya sebagai anggota keluarga kerajaan, tetapi sebagai pribadi dengan karakter kuat, emosional, dan berani mengekspresikan diri. Berbeda dari kakaknya, Ratu Elizabeth II, Margaret dikenal lebih bebas, artistik, dan kerap melanggar pakem istana yang kaku.
Malam badai di Kastil Glamis pun tak sekadar menjadi latar kelahiran seorang putri, melainkan metafora awal perjalanan hidupnya. Dari dentuman petir dan hujan deras, lahirlah sosok yang kelak membawa warna, kontroversi, dan sisi manusiawi dalam sejarah panjang monarki Inggris. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.