Broken Strings: Memoar Aurelie Moeremans yang Membuka Tabir Bahaya Child Grooming dan Krisis Perlindungan Remaja
puanpertiwi.com – Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang merupakan seorang publik figur, belakangan ramai diperbincangkan karena menguak memori kelam yang dialaminya saat remaja. Broken Strings hadir bukan sekadar sebagai memoar personal seorang figur publik, melainkan sebagai cermin dari persoalan sosial yang selama ini kerap terabaikan: praktik child grooming dan dampaknya terhadap kesehatan mental anak dan remaja.
Melalui kisah yang ditulis secara jujur dan reflektif, Aurelie mengangkat pengalaman relasi manipulatif yang ia alami sejak usia remaja—pengalaman yang ternyata merepresentasikan pola kekerasan emosional yang dialami banyak korban lain.
Dirilis secara mandiri pada Oktober 2025 dan dibagikan secara gratis dalam format digital, Broken Strings dengan cepat menyita perhatian publik. Buku ini memuat pengakuan tentang bagaimana relasi yang pada awalnya tampak penuh perhatian perlahan berubah menjadi hubungan yang mengekang, penuh kontrol, dan menimbulkan ketergantungan emosional. Pola tersebut dikenal sebagai child grooming, sebuah proses manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku—sering kali orang dewasa—terhadap anak atau remaja.
Psikolog klinis A. Kasandra Putranto menjelaskan bahwa child grooming bukanlah tindakan instan, melainkan proses bertahap.
“Pelaku biasanya membangun kedekatan emosional terlebih dahulu untuk mendapatkan kepercayaan anak. Setelah itu, pelaku mulai mengendalikan korban secara perlahan, baik melalui pujian berlebihan, perhatian intens, maupun manipulasi emosi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaku kerap menggunakan teknik gaslighting—membuat korban meragukan perasaan dan penilaiannya sendiri—hingga korban merasa bergantung secara emosional pada pelaku.
Berbeda dengan kekerasan fisik yang mudah dikenali, grooming bekerja di wilayah psikologis. Korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan. Bahkan, tidak jarang korban merasa bersalah, takut kehilangan figur yang dianggap memberi rasa aman, atau enggan bercerita karena relasi tersebut tampak “suka sama suka”. Inilah yang membuat child grooming menjadi bentuk kekerasan yang sangat berbahaya dan sulit dideteksi.
Data menunjukkan bahwa risiko ini bukan persoalan individual. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mencatat ribuan kasus kekerasan terhadap anak setiap tahunnya, dengan kekerasan seksual—termasuk yang berbasis manipulasi emosional—menjadi salah satu bentuk dominan.
Di era digital, ancaman tersebut semakin kompleks. Media sosial, aplikasi pesan, hingga platform permainan daring kerap menjadi pintu masuk baru bagi praktik grooming modern.
Psikolog Anastasia Sari Dewi menegaskan bahwa dampak grooming dapat berlangsung jangka panjang.
“Tujuan pelaku grooming bisa beragam, mulai dari kepuasan emosional hingga seksual. Dampaknya pada korban tidak hanya trauma sesaat, tetapi bisa memengaruhi perkembangan emosi, kepercayaan diri, hingga pola relasi korban di masa dewasa,” jelasnya. Korban berisiko mengalami kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.
Dalam konteks inilah Broken Strings menjadi relevan secara sosial. Aurelie tidak hanya menceritakan luka masa lalu, tetapi juga menggambarkan kebingungan, rasa bersalah, dan kehancuran emosional yang dialami korban grooming—emosi yang sering kali tidak mendapat ruang validasi di masyarakat.
Buku ini menantang budaya diam dan kecenderungan menyalahkan korban yang masih kuat, terutama ketika relasi melibatkan ketimpangan usia dan kuasa.
Lebih jauh, memoar ini turut menyoroti lemahnya literasi emosional dan pendidikan relasi sehat di masyarakat. Dalam banyak kasus, relasi yang tidak setara masih dinormalisasi, sementara suara korban justru dipertanyakan. Broken Stringsmematahkan narasi tersebut dengan menunjukkan bahwa persetujuan dalam relasi yang timpang tidak pernah benar-benar setara.
Respons publik terhadap buku ini memperlihatkan besarnya kebutuhan akan percakapan semacam ini. Banyak pembaca merasa menemukan bahasa untuk memahami pengalaman mereka sendiri—pengalaman yang sebelumnya sulit diidentifikasi sebagai bentuk kekerasan. Dengan demikian, Broken Strings tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai alat edukasi dan advokasi sosial.
Di tengah meningkatnya ancaman grooming, para pakar menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan negara. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak, pendidik harus dibekali pemahaman tentang relasi sehat dan tanda bahaya grooming, sementara kebijakan publik dan platform digital dituntut lebih serius melindungi anak dan remaja.
Melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans menempatkan pengalaman personalnya dalam konteks yang lebih luas: sebagai pengingat bahwa kekerasan terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk ekstrem, tetapi sering bersembunyi di balik perhatian yang tampak tulus. Buku ini menjadi ajakan kolektif untuk lebih peka, lebih peduli, dan lebih berani melindungi generasi muda dari bahaya yang kerap tak terlihat. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.