Pulse Day 2026: Saat Menyentuh Nadi Menjadi Gerakan Menyelamatkan Nyawa
puanpertiwi.com – Ada kebiasaan kecil yang sering kita abaikan: menyentuh pergelangan tangan sendiri.
Padahal, di balik denyut yang terasa sederhana itu, tersimpan informasi penting tentang hidup-tentang ritme yang menjaga kita tetap bergerak, berpikir, dan merasa.
Di tengah gaya hidup yang semakin cepat, stres yang tak jarang menumpuk, serta usia harapan hidup yang kian panjang, kesadaran terhadap kesehatan jantung menjadi relevan dari sebelumnya.
Inilah semangat yang diusung Pulse Day 2026, kampanye global yang diperingati setiap 1 Maret untuk mengajak masyarakat mengenali irama jantungnya-melalui langkah sederhana bernama MENARI (MEraba NAdi sendiRI).
Ketika Irama Jantung Tak Lagi Teratur
Gangguan irama jantung atau aritmia kerap datang tanpa tanda.
Tidak selalu ada nyeri, tidak selalu ada peringatan dramatis. Namun dampaknya bisa sangat serius.
Salah satu bentuk aritmia yang paling sering terjadi adalah Fibrilasi Atrium (Atrial Fibrillation/AF)-kondisi yang meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan risiko kematian dua kali lipat.
Ironisnya, sekitar 50% kasus fibrilasi atrium tidak terdiagnosis.
Banyak orang baru mengetahui kondisinya setelah terjadi komplikasi berat seperti stroke atau gagal jantung.
“Gangguan irama jantung sering kali tidak bergejala dan baru diketahui ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal deteksi dini bisa dilakukan dengan sangat sederhana, yaitu dengan MENARI secara rutin,” ujar Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), Subsp. K.I.(K), FIHA, FASCC, Head of Pulse Day Task Force dan Chairperson Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS).
Dari Global ke Lokal: Gerakan Bersama untuk Jantung
Tahun ini, Pulse Day dipimpin oleh Asia Pacific Heart Rhythm Society bersama mitra internasional seperti European Heart Rhythm Association, Heart Rhythm Society, dan Latin American Heart Rhythm Society, dengan dukungan Arrhythmia Alliance serta World Heart Federation.
Puncak kegiatan global akan berlangsung dalam rangkaian APHRS Summit di Selandia Baru, menghadirkan edukasi publik hingga pemeriksaan denyut nadi massal.
Di Indonesia, kampanye ini diterjemahkan dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat-melalui publikasi media, edukasi oleh tenaga kesehatan, serta adaptasi pesan dalam bahasa dan budaya lokal. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit. la adalah bagian dari gaya hidup.
MENARI: Self-Care yang Sederhana tapi Bermakna
Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, FASCC, FEHRA, FAPHRS, Advisory Board PERITMI/InaHRS sekaligus penggagas gerakan MENARI menekankan, bahwa kebiasaan ini adalah bentuk self-awareness paling dasar terhadap tubuh sendiri.
Cara melakukannya sederhana:
- Letakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher.
- Hitung denyut selama 30 detik.
- Kalikan dua untuk mengetahui denyut per menit.
Denyut normal berada di kisaran 60-100 kali per menit dengan irama yang teratur.
Namun bukan hanya angka yang penting, keteraturan irama juga perlu diperhatikan.
Denyut yang terasa tidak teratur, terlalu cepat, terlalu lambat, atau disertai keluhan seperti pusing, nyeri dada, sesak napas, hingga kelemahan mendadak, adalah sinyal untuk segera berkonsultasi ke dokter.
MENARI bukan alat diagnosis, tetapi langkah skrining awal. Dari kebiasaan kecil inilah, peluang deteksi dini terbuka. Dan dari deteksi dini, risiko stroke bisa ditekan secara bermakna.
Teknologi Boleh Canggih, Tapi Kesadaran Tetap Kunci
Di era wearable device, memantau detak jantung menjadi semakin mudah.
Jam tangan pintar kini dilengkapi sensor fotoplethysmography (PPG) hingga EKG satu sadapan yang mampu mendeteksi irama tidak teratur secara real-time.
Namun, seperti ditegaskan para ahli, teknologi tetap memiliki keterbatasan.
Notifikasi dari perangkat harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan EKG klinis oleh dokter jantung untuk memastikan diagnosis yang akurat.
Teknologi adalah alat bantu. Kesadaran tetap milik kita sendiri.
Menjadikan Jantung sebagai Bagian dari Gaya Hidup Sehat
Kesehatan jantung tidak lagi hanya soal menghindari makanan berlemak atau rutin berolahraga.
la tentang hubungan yang lebih dalam dengan tubuh-mengenali ritmenya, memahami sinyaln dan meresponsnya dengan bijak.
Pulse Day 2026 mengajak kita melihat kesehatan jantung bukan sekadar isu medis, melai bagian dari kualitas hidup.
Di tengah kesibukan, mungkin kita tidak selalu punya waktu unte banyak hal. Tapi menyentuh nadi sendiri? Itu hanya butuh 30 detik.
Mungkin juga dalam 30 detik itu menyelamatkan masa depan. Karena terkadang, langkah terbesar dimulai dari gerakan paling sederhana: MENARI. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.