Kisah Di Balik Takhta: Kehidupan Pribadi Mantan Pemimpin Iran Mohammad Reza Pahlavi yang Penuh Kontras
puanpertiwi.com – Di balik sosok Mohammad Reza Pahlavi yang dikenal dunia sebagai Shah terakhir Iran, tersimpan kisah kehidupan pribadi yang jauh dari kata sederhana. Hidup dalam kemewahan istana, ia justru menjalani perjalanan personal yang sarat tekanan, kesepian, dan pencarian jati diri.
Lahir pada 26 Oktober 1919, Mohammad Reza tumbuh dalam lingkungan kerajaan yang disiplin dan kaku. Ayahnya, Reza Shah Pahlavi, dikenal sebagai sosok otoriter yang membentuk putranya dengan standar tinggi. Sejak usia muda, Mohammad Reza telah dipersiapkan untuk memimpin, bahkan dikirim ke Swiss untuk menempuh pendidikan militer. Namun, di balik citra calon pemimpin yang tegas, ia dikenal sebagai pribadi yang sensitif dan pendiam.
Kehidupan rumah tangganya pun mencerminkan dinamika emosional yang kompleks. Mohammad Reza Pahlavi tercatat menikah tiga kali. Pernikahan pertamanya dengan Putri Fawzia dari Mesir berakhir karena perbedaan budaya dan jarak emosional. Ia kemudian menikah dengan Soraya Esfandiary, yang dikenal sebagai “Putri Bermata Sedih”. Hubungan ini penuh cinta, namun harus kandas karena Soraya tidak dapat memberikan keturunan—sebuah tekanan besar bagi seorang raja yang membutuhkan pewaris tahta.
Pernikahan ketiganya dengan Farah Diba menjadi yang paling stabil. Farah tidak hanya berperan sebagai istri, tetapi juga mitra intelektual dan simbol modernisasi kerajaan. Bersamanya, Mohammad Reza memiliki empat anak dan menampilkan citra keluarga kerajaan yang modern dan kosmopolitan di mata dunia.
Di luar peran sebagai penguasa, Mohammad Reza dikenal menyukai seni, musik klasik, dan puisi Persia. Ia kerap digambarkan sebagai sosok yang menikmati kesunyian, jauh dari hingar-bingar politik. Namun, tekanan kekuasaan, kritik publik, serta kondisi kesehatannya yang menurun—termasuk diagnosis kanker yang dirahasiakan—membuat hidupnya semakin tertutup menjelang akhir masa pemerintahan.
Setelah digulingkan pada 1979, Mohammad Reza Pahlavi menjalani hidup dalam pengasingan. Tanpa istana dan mahkota, ia menghadapi fase paling rapuh dalam hidupnya. Ia wafat di Kairo pada 27 Juli 1980, meninggalkan warisan yang masih diperdebatkan hingga kini.
Kisah hidup Mohammad Reza Pahlavi menunjukkan bahwa di balik simbol kekuasaan dan kemegahan, terdapat manusia dengan pergulatan batin, cinta yang kandas, dan kerinduan akan kehidupan yang lebih tenang—sebuah sisi personal yang kerap luput dari sorotan sejarah. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.