Film Titip Bunda di Surgamu Hadirkan Potret Keluarga dan Konflik Generasi
puanpertiwi.com – Film ‘Titip Bunda di Surgamu‘ hadir sebagai potret reflektif tentang rapuhnya komunikasi dalam keluarga, dengan sosok ibu sebagai poros utama cerita. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Tanah Air pada 26 Februari 2026, dan resmi memperkenalkan poster serta trailer melalui press conference yang digelar Kamis, 15 Januari 2026, di Metropole XXI, Jakarta.
Diproduseri oleh Dono Indarto dan disutradarai oleh Hanny R. Saputra, Titip Bunda di Surgamu diadaptasi dari novel Nine Centuries karya Dono Indarto bersama Ingrid Kartika. Sejak awal, Dono meyakini cerita ini memiliki urgensi kuat untuk diangkat ke layar lebar, berangkat dari keprihatinannya terhadap memburuknya relasi komunikasi antara orang tua dan anak, khususnya saat anak memasuki usia remaja.
“Sering kali perjalanan waktu membuat komunikasi orang tua dan anak semakin berjarak, terutama ketika anak berusia sekitar 16 tahun. Ada banyak fiksi atau kesalahpahaman yang muncul, dan itu bukan hal sepele,” ujar Dono. Ia menyinggung sejumlah kasus kekerasan dalam keluarga yang belakangan mencuat sebagai alarm serius. Kejadian-kejadian tersebut mendorongnya menciptakan karya yang diharapkan dapat menjadi jembatan dialog antara orang tua dan anak. “Orang tua sering punya niat baik, tapi dianggap salah oleh anak. Sebaliknya, anak merasa tidak dipahami karena perbedaan generasi,” katanya.
Keyakinan akan kuatnya pesan tersebut membuat Dono memutuskan untuk memproduseri film ini secara langsung, demi menjaga ruh cerita yang ingin disampaikan. Film ini pun dikemas sebagai drama keluarga yang dekat dengan realitas, tanpa menggurui, namun mengajak penonton untuk bercermin.
Bagi sang sutradara, Titip Bunda di Surgamu menjadi pengalaman emosional yang berbeda. Hanny R. Saputra mengaku jarang menangis saat menggarap film drama, namun film ini justru membuatnya berkali-kali larut dalam emosi. Kedalaman cerita dan konflik keluarga yang dihadirkan terasa personal, bahkan sejak proses kreatif berlangsung.
Dari sisi pemain, Ikang Fauzi yang memerankan Akbar, sosok ayah dalam keluarga tersebut, menilai film ini merepresentasikan konflik yang sangat mungkin terjadi di keluarga mana pun. “Ini film keluarga dengan tokoh sentral seorang ibu. Saya memerankan ayah yang sangat mencintai istrinya, lalu hadir problem dan konflik yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, tapi sangat mungkin terjadi di keluarga mana pun,” ujar Ikang. Ia juga menyebut beradu akting dengan Meriam Belina tidak menghadirkan kesulitan berarti karena chemistry keduanya terbangun secara alami.
Meriam Belina sendiri memerankan Moza, sosok ibu yang menjadi pusat emosi cerita. Ia mengaku setiap kali memerankan peran ibu, ada beban emosi tersendiri. “Memerankan peran ibu membuat saya selalu menarik napas. Film ini bicara tentang komunikasi keluarga yang terlantar, padahal dalam kehidupan, komunikasi itu sangat penting,” tuturnya. Meriam menyoroti minimnya interaksi antara anak dan orang tua di kehidupan modern, yang kerap dianggap wajar, namun berdampak panjang.
Ia juga menegaskan pesan penting film ini terkait cara pandang orang tua terhadap anak. “Orang tua kadang merasa anak-anak adalah investasi. Anak-anak bukan investasi, mereka adalah children. Mereka pribadi masing-masing yang akan tumbuh dewasa dan punya kehidupan sendiri,” ujarnya. Melalui film ini, Meriam berharap ruang komunikasi dalam keluarga dapat kembali terbuka. “Walaupun disampaikan dengan cara yang tidak selalu benar, semoga setelah menonton film ini, komunikasi terutama antara anak dan ibu bisa terbuka dan kehangatan kembali terasa. Itu tujuan film ini.”
Dinamika keluarga dalam film ini juga diperkuat oleh sudut pandang anak-anak. Acha Septriasa memerankan anak sulung, sementara Kevin Zulio hadir sebagai Adam, anak tengah, dan Abun Sungkar sebagai Azam, si bungsu. Abun mengaku memiliki kedekatan personal dengan karakternya. “Kebetulan saya juga anak bontot, jadi mudah mendalami perannya. Anak bontot biasanya ingin disayang, dan di film ini sisi childish Azam justru menjadi konflik yang menarik,” katanya. Ia menilai film ini memberi pelajaran tentang bagaimana komunikasi keluarga dapat membentuk relasi antaranggota keluarga.
Kevin Zulio pun merasakan pengalaman baru saat memerankan anak tengah. “Ini pertama kalinya saya memerankan karakter anak tengah. Banyak belajar dari crew dan para aktor, dan setelah menjalaninya jadi tahu rasanya berada di posisi itu,” ujarnya.
Melalui peluncuran poster dan trailer resminya, Titip Bunda di Surgamu menegaskan posisinya sebagai film keluarga yang tidak hanya mengandalkan emosi, tetapi juga membawa pesan sosial yang relevan dengan realitas hari ini. Film ini mengajak penonton untuk kembali membuka ruang dialog, menumbuhkan empati, dan merawat kehangatan dalam keluarga—nilai-nilai sederhana yang kerap terabaikan di tengah perbedaan generasi dan dinamika kehidupan modern. ***



Post Comment
You must be logged in to post a comment.