Hadapi Tantangan Baru, Eugenia Communications Siapkan Arah Komunikasi Kesehatan 2026

puanpertiwi.com – Memasuki era kesehatan yang semakin kompleks, kebutuhan akan komunikasi yang kredibel, akurat, dan strategis kian menjadi krusial.

Eugenia Siahaan, Direktur Eugenia Communications, PR agency yang telah berdiri sejak 1999, menyampaikan bahwa selama lebih dari dua dekade, Eugenia Communications konsisten berfokus pada penguatan komunikasi kesehatan di Indonesia, dengan tujuan membangun pemahaman publik yang tepat serta kepercayaan terhadap isu-isu kesehatan.

Eugenia menekankan bahwa tahun 2025 menghadirkan sejumlah tantangan besar sekaligus peluang yang tidak bisa diabaikan oleh pelaku industri kesehatan, mulai dari farmasi, rumah sakit, klinik, perhimpunan medis, hingga pemangku kepentingan pemerintah.

Sehingga, ada beberapa yang perlu diperhatikan di 2026.

Melihat kembali perjalanan 2025, Eugenia menyoroti bahwa tantangan terbesar datang dari lonjakan misinformasi kesehatan, terutama mengenai metode pengobatan yang tidak memiliki dasar ilmiah.

“Selama 2025, kita melihat derasnya arus informasi keliru yang beredar di media sosial. Banyak masyarakat yang tersesat oleh klaim pengobatan instan dan metode alternatif yang tidak melalui validasi klinis. Ini bukan hanya isu komunikasi, melainkan juga ancaman langsung terhadap keselamatan publik. Sehingga, industri kesehatan harus bergerak jauh lebih agresif dalam menyediakan informasi yang benar, terutama karena ekosistem digital memberi ruang bagi misinformasi untuk menyebar lebih cepat dibandingkan klarifikasinya,” ujarnya.

Di sisi lain, tren yang cukup positif selama tahun ini adalah meningkatnya minat publik terhadap pencegahan penyakit. Kampanye vaksinasi, promosi deteksi dini, dan edukasi gaya hidup sehat menjadi lebih relevan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kesadaran masyarakat meningkat, tetapi persaingan untuk mendapatkan perhatian publik juga semakin ketat. Komunikasi tentang pencegahan tidak bisa dibuat sekadar informatif, harus kuat secara data, mudah dipahami, dan relevan dengan realitas masyarakat,” jelas perempuan kelahiran Jakarta, 28 September 1968.

Persaingan antar penyedia layanan Kesehatan, baik rumah sakit maupun klinik, juga semakin intens.

Banyak fasilitas kesehatan berlomba menampilkan teknologi mutakhir, layanan unggulan, serta inovasi diagnostik untuk membangun citra sebagai yang paling modern dan terpercaya.

Namun, menurut Eugenia, komunikasi yang hanya berfokus pada teknologi tidak lagi cukup.

Publik kini ingin tahu manfaat konkretnya, seperti apakah teknologi itu memang meningkatkan peluang hidup, mempercepat pemulihan, atau memberikan pengalaman perawatan yang lebih manusiawi.

“Tidak hanya itu, media nasional pun semakin selektif. Jurnalis kini menuntut data yang lebih kuat, narasumber yang benar-benar kredibel, serta isu yang memiliki dampak publik yang nyata. Kondisi ini semakin menantang praktisi PR untuk memastikan setiap informasi yang dirilis memiliki news value yang tinggi, bukan sekadar bahan promosi. Era 2025 mengajarkan bahwa media tidak lagi bisa digugah hanya dengan novelty. Tetapi mereka membutuhkan kedalaman informasi,” tambahnya.

Memasuki 2026, perempuan yang merupakan lulusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia pada 1992 ini menilai akan ada beberapa transformasi penting yang harus menjadi perhatian utama pelaku industri kesehatan.

“Pertama, literasi kesehatan digital akan meningkat tajam di 2026. Publik semakin kritis memilih sumber informasi dan kian sadar bahwa tidak semua konten kesehatan dapat dipercaya. Sebagai praktisi PR, harus mengambil peran lebih besar sebagai kurator informasi yang akurat, ilmiah, dan mudah diverifikasi. Tantangan ke depan bukan hanya membuat konten yang menarik, tetapi memastikan konten tersebut benar dan mampu dipertanggungjawabkan dalam pengujian publik,” katanya.

Kedua, Eugenia menilai akan ada pergeseran paradigma penting, di mana kualitas lebih penting daripada viralitas.

Ia mengkritisi, dalam dunia kesehatan, popularitas bukan indikator keberhasilan. Keberhasilan farmasi dan rumah sakit hanya bisa diukur dari seberapa banyak mereka memperbaiki kualitas hidup manusia.

Jika hanya mengandalkan viral tanpa kejujuran dan kualitas layanan, efeknya hanya sementara dan tidak meninggalkan dampak apa pun,” ujarnya.

“Ketiga, integrasi teknologi kesehatan seperti telemedisin, Al, dan health-tracking akan semakin mempengaruhi pola komunikasi. Peluang edukasi publik semakin besar untuk bidang-bidang ini, namun risiko reputasi juga semakin tinggi. Dengan berkembangnya teknologi deepfake, konten manipulatif yang dapat merusak reputasi perusahaan bisa muncul kapan saja. Mitigasi krisis harus bergerak lebih cepat, praktisi PR kini harus mampu melakukan deteksi dini terhadap konten palsu sebelum kerusakannya meluas,” tegas Eugenia.

Keempat, kebutuhan akan spokesperson yang benar-benar tepercaya akan meningkat drastis.

“Publik akan menilai siapa manusia di balik brand, perusahaan, dan RS sekalipun, bukan hanya logo, kemasan produk ataupun gedung yang bagus saja. Spokesperson yang dipilih tidak boleh hanya pandai berbicara, namun juga ia harus objektif, tenang, dan memiliki kapabilitas ilmiah yang kuat. Jangan sampai spokeperson yang salah menjadi boomerang bagi kita,” ucapnya.

Lalu yang kelima, Eugenia mengatakan, kolaborasi lintas sektor akan menjadi kunci.

Kerja sama antara farmasi, perhimpunan dokter, rumah sakit, lembaga pemerintah, hingga komunitas akar rumput akan berperan penting dalam menciptakan kampanye kesehatan berskala besar yang berkelanjutan. Tidak ada lagi ruang untuk bekerja sendiri-sendiri.

Di balik perjalanan panjang Eugenia Communications, figur Eugenia Siahaan memainkan peran sentral.

Selama lebih dari 25 tahun berkarya di dunia PR kesehatan, Eugenia dikenal sebagai sosok yang mampu membaca situasi, mengolah isu, serta menyusun strategi komunikasi yang relevan dengan kebutuhan klien dan publik, serta mampu membantu klien baik dari dalam maupun luar negeri.

“Sebagai bentuk pengembangan kapabilitas perusahaan, Eugenia Communications kini juga telah melakukan ekspansi ke layanan Event Organizer (EO). Langkah ini memungkinkan perusahaan memberikan one stop service bagi klien, mulai dari strategi komunikasi, media relations, hingga pelaksanaan event berskala besar dalam satu rangkaian terintegrasi. Untuk layanan EO, tentunya kami juga terbuka untuk berbagai perusahaan bidang lainnya, kami ingin senantiasa memberikan layanan terbaik untuk siapa saja,” tambahnya.

“Eugenia Communications, khususnya di bidang PR, berkomitmen untuk terus mendampingi para pelaku industri kesehatan menghadapi dinamika komunikasi yang semakin menantang di 2026. Di tengah derasnya informasi, cepatnya teknologi, dan meningkatnya tuntutan publik, komunikasi kesehatan yang kredibel bukan lagi pilihan, tetapi keharusan strategis,” tutupnya. ***

Post Comment